Menanti Kembali Keajaiban Denmark

Menanti Kembali Keajaiban Denmark

Piala Dunia 2022 kali ini banyak hal-hal yang menarik yang dibahas dari dalam lapangan maupun luar lapangan. Sebagai contoh, banyak sekali kasus yang berhubungan dengan hak asasi manusia dalam menyambut Piala Dunia kali ini di Qatar.

Hal menarik lainnya terutama dalam lapangan memunculkan banyak hasil yang diluar prediksi seperti kekalahan Argentina dan Jerman melawan Arab Saudi dan Jepang yang merupakan negara yang diatas kertas harusnya mereka bisa mengalahkannya secara kualitas tim.

Read More

Namun, dalam piala dunia kali ini ada negara yang ditunggu-tunggu lagi keajaibannya yaitu Denmark. Semifinalis Piala Eropa 2020 ini merupakan salah satu tim kuda hitam dalam Piala Dunia 2022. Denmark sebelum dimulainya piala dunia juga sudah melakukan sebuah kampanye yang unik dalam menanggapi Piala Dunia 2022 ini.

Bukan Sekedar Kain Biasa

Hummel yang merupakan produser pakaian olahraga bagi tim nasional Denmark dalam merilis jersey guna dipakai dalam Piala Dunia 2022 di Qatar menuai banyak komentar. Sebab, mereka merilis jersey ketiga Denmar yang berwarna hitam dalam “warna yang berduka” sebagai protes atas pelanggaran hak asasi di Qatar.

Sebelumnya dilaporkan bahwa telah terjadi pelanggaran hak asasi di Qatar dalam membangun fasilitas Piala Dunia 2022. Paling banyak yang mengalami pelanggaran adalah para imigran yang membangun stadion Khalifa.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by hummel Sport (@hummelsport)

Dalam rilis resminya, Hummel mengatakan “Meskipun kami mendukung tim nasional Denmark sepenuhnya, ini tidak boleh disamakan dengan dukungan untuk turnamen yang telah merenggut ribuan nyawa orang. Kami ingin membuat pernyataan tentang catatan hak asasi manusia Qatar dan perlakuan negara ini  terhadap para pekerja migran yang telah membangun stadion Piala Dunia di negara itu.”

Selain jersey berwarna hitam “duka”, Hummel juga merilis jersey berwarna merah dan putih dengan meredupkan logo apparel dan lambang negara Denmark sebagai bentuk protesnya.

The Møller Nielsen Fairytale

Selain dari jersey yang mengandung protes, Denmark juga memiliki cerita yang melegenda. Bahkan cerita ini dikisahkan dalam bentuk film berjudul Sommere ’92 (Summer ’92). Film dokumenter ini sempat tayang di Netflix dan HBO Max.

Summer of '92 Film
Sumber: HBO Max

Cerita ini bermula ketika gelaran Piala Eropa 1992. Saat itu pada kualifikasi, The Dinamite sebenarnya tidak lolos ke putaran final Piala Eropa. Sebab, mereka hanya menempati urutan kedua dibawah Yugoslavia yang menjadi juara grup pada kualifikasi tersebut.

Setelah sebelumnya Nielsen sang pelatih kepala ditimpa banyak masalah. Dari mulai duo Laudrup, Brian dan Michael mengundurkan diri dari tim pada November 1990. Kemudian Nielsen juga tidak memanggil pemain bintang macam  Jan Mølby dan Jan Heintze karena masalah kedisiplinan. Maka dari itu banyak orang dan media menuntun Nielsen untuk mundur dari jabatannya.

Namun ternyata kejutan datang pada 31 Mei 1992, tepat sepuluh hari sebelum Piala Eropa 1992 bergulir. Yugoslavia yang seharusnya bertanding di putaran final akhirnya didiskualifikasi karena sedang ada perang yang berkecamuk disana. Denmark, sebagai runner-up pada kualifikasi akhirnya ditunjuk untuk mewakili grup tersebut.

Akhirnya dengan persiapan yang sangat minim Nielsen butuh pemain dengan segera dan siap untuk bermain. Namun, saat itu juga sedang libur kompetisi dan beberapa pemain sedang menikmati liburannya. Walaupun pada akhirnya ia bisa mengumpulkan skuat terbaiknya.

Yang paling mengejutkan adalah Brian Laudrup yang akhirnya mau kembali bermain di tim nasional setelah sebelumnya memiliki ego besar dan bertentangan dengan pelatih tradisional macam Nielsen ini.

Perjalanan Denmark di fase grup tidak berjalan mulus, tergabung di grup A bersama Swedia, Prancis dan Inggris tentunya memiliki sedikit peluang untuk melaju ke babak selanjutnya. Namun, keajaiban datang kembali. Mereka akhirnya mampu finis di posisi kedua dibawah Swedia setelah menahan imbang Inggris, kalah dengan Swedia dan di pertandingan terakhir secara mengejutkan menang melawan Prancis.

Saat itu juga sebelum pertandingan melawan Prancis, pemain kunci mereka Kim Vilvort mengalami musibah. Putrinya yang berumur 7 tahun mengidap leukimia dan dirawat di rumah sakit. Hal itu membuat dirinya absen melawan Prancis. Namun setelahnya ia disuruh main kembali oleh anak dan istrinya sebagai pemicu semangatnya.

Setelah lolos fase grup, Denmark bertemu Belanda di semifinal. Mereka berhasil menahan imbang Belanda 2-2 yang sedang bertabur bintang dan memaksa mereka melanjutkan ke babak adu penalti. Di babak penalti, Schmeichel dkk. menang dengan skor 5-4 dan membuat mereka melaju ke babak final.

Di partai final, mereka menghadapi Jerman. Lagi-lagi mereka mendapatkan hidayah yang besar. Secara mengejutkan lagi mereka menundukkan Jerman dengan skor 2-0 dan salah satu golnya diciptakan oleh Kim Vilvort.

Kim Vilfort dan Trofi
Sumber: UEFA

Namun sayang, Line Vilvort, anak dari Kim akhirnya harus menghembuskan nafas terakhirnya setelah gagal berjuang melawan leukimia. Sejak saat itu Kim aktif dalam kegiatan sosial untuk orang-orang yang mengidap leukimia.

Pada Piala Eropa 1992 juga melahirkan sebuah peraturan baru. Dulu, seorang pemain bisa mengoper ke kiper dan menangkapnya atau backpass. Hal inilah yang di manfaatkan Schemichel dkk. guna mengulur waktu lebih panjang ketika mereka melawan Prancis, Belanda dan Jerman.

Kemudian pasca turnamen tersebut akhirnya FIFA mengeluarkan aturan tidak boleh seorang kiper menangkap bola yang diberikan kawannya atau backpass.

Itulah sebuah dongeng dari Denmark bagaimana mereka mendapatkan juara Piala Eropa untuk pertama kalinya dalam sejarah mereka. Cerita tersebut bakal akan terus diingat oleh siapa pun. Mungkin hal seperti ini akan sangat jarang terjadi, tapi bukan tidak mungkin akan terulang kembali bukan?

Kita ingat juga bagaimana tim kuda hitam macam Yunani berhasil menjadi juara Piala Eropa 2004. Bukan tidak mungkin akan muncul ‘dongeng-dongeng’ baru dari negara kontestan lain atau bahkan kita bisa menunggu kembali sebuah dongeng keajaiban dari The Dinamite.

Tabik!

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *