Imigran Yang Membangun Sepakbola Prancis

Berbicara tentang hubungan Prancis dengan imigran di sepakbola itu bagaikan dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Mereka saling membutuhkan satu sama lain. Di satu sisi kadang ada yang menganggap adanya imigran di Prancis merupakan awal dari sebuah kehancuran. Disisi lainnya menganggap bahwa par imigran adalah pahlawan mereka di sepakbola.

Pastinya kita tidak lupa bagaimana kiprah Prancis pada Piala Dunia 1998. Selain bertindak sebagai tuan rumah, saat itu juga mereka berhasil menjadi jawara dalam ajang yang terkemuka tersebut untuk pertama kalinya.

Sejarah hubungan imigran dengan sepakbola Prancis sudah terbangun sejak lama. Sejak tahun 1890an hingga 1910an, sudah banyak par imigran datang untuk bermain sepakbola. Bahkan saat itu Persatuan Olahraga Atletik Perancis (USFSA) yang mengadakan turnamen sepakbola dimenangkan oleh klub lokal milik orang Swiss, Stade Helvetic.

Alih-alih bersikap resistan seperti sebagian besar orang pribumi, USFSA justru merangkul para imigran tersebut untuk membangun sepakbola bersama-sama. Buktinya, pada tahun 1919 USFSA yang konservatif berevolusi menjadi Asosiasi Sepakbola Federasi Prancis (FFF).

Bahkan, saat Ligue 1 (liga profesional) berjalan pertama kalinya pada 1932, ada sekitar 35% pemain yang bermain saat itu berstatus sebagai pemain asing.

Isu Nasionalisme

Pada tahun 1996 hingga 1998 bertepatan saat Prancis menjadi tuan rumah piala dunia, muncul isu yang panas saat itu. Isu nasionalisme. Isu tersebut dibawa oleh politisi bernama Jean-Marie Le Pen yang berasal dari kelompok populis sayap kanan Front Nasional.

Ia mengecam bahwa skuat Prancis pada saat itu, Piala Dunia 1998 bukan cerminan dari pribumi Prancis sendiri. “Mereka adalah skuat buatan!” kata Le Pen.

Seperti partai-partai pada umumnya, saat itu Le Pen sedang membangun kelompok tersebut guna kepentingannya untuk maju ke pemilihan presiden pada 2002. Kelompok Front Nasional memang sering mengangkat isu sensitif, yang tabu untuk dibicarakan seperti isu imigran.

Bahkan saat itu ketika ekonomi Prancis sedang bobrok, ia menuduh dan menyalahkan para imigran. Ia beranggapan bahwa imigranlah yang membuat ekonomi di Perancis tak kunjung baik.

Pada saat Piala Dunia 1998, pelatih kepala Prancis saat itu, Aime Jacquet memanggil 23 pemain untuk berpartisipasi dalam piala dunia. Dari 23 pemain, setidaknya ada 16 pemain yang merupakan imigran atau kulit hitam. Hal ini membuat Le Pen menyerang Jacquet. Ia beranggapan bahwa 16 pemain tersebut bahkan tidak bisa menyanyikan lagu kebangsaan Perancis, La Marseillaise.

Pembuktian Para Imigran

Pada saat Piala Dunia 1998, para imigran berhasil membungkam mulut Le Pen. Prancis berhasil menjadi jawara dengan skor cukup meyakinkan 3-0 atas Brazil. Uniknya, dua gol diborong oleh seorang imigran Aljazair dan beragama Islam, Zinedine Zidane.

Imigran Yang Membangun Sepakbola Prancis
Sumber: FIFA.com

Sejak saat itu, nama Le Pen seakan hilang dari muka bumi. Apalagi selang dua tahun menjadi juara Piala Dunia, Prancis berhasil menjadi juara Piala Eropa 2000. Hal itu menegaskan bahwa keberagaman yang ada di skuat Prancis bukanlah ancaman mereka. Justru ancaman berada pada orang-orang yang memang tidak suka akan keberagaman.

Sejak Piala Dunia 1998, Zidane dkk. membangun bersama sepakbola Prancis. Saat itu muncul julukan baru untuk Prancis yaitu “Tricolore” dengan mitologi Black-Blanc-Beur. Mitologi tersebut berarti Hitam-Putih-Arab merujuk pada tiga identitas yang menjadi satu. Sejak saat itu, Perancis menjadi tim dengan mulkulturalismenya dengan mewakili spirit Revolusi Prancis: liberté, égalité, fraternité (kebebasan, kesetaraan, persaudaraan).

Sedikit menarik jauh ke beberapa tahun belakang, banyak para imigran yang namanya dikenang sebagai idola pribumi. Pada tahun 1950an ada Raymond Kopa dkk. yang saat itu berhasil membawa Prancis masuk ke semifinal Piala Dunia 1958 dan 1960.

Sedangkan pada periode 1980an, bersama dengan sang bintang Michel Platini yang berasal dari orang tua Italia bersama dengan teman-temannya, Les Blues berhasil menjadi juara Piala Eropa 1984 dan lolos ke semifinal Piala Dunia 1982 dan 1986.

Kembali ke masa 2000an ada banyak sekali bintang Prancis yang merupakan imigran. Selain Zidane yang berasal dari Aljazair. Ada juga Patrick Vieira yang dari Senegal. Lilian Thuram dan Thierry Henry yang keturunan Guadeloupe. Serta David Trezeguet, Fabian Barthez, dan Bixente Lizarazu yang berasal dari negara berbahasa Spanyol.

Selain itu, pada Piala Dunia 2018 di Rusia yang saat itu Prancis menjadi juaranya mereka tak lepas dari sorotan para imigran. Pelatih kepala saat itu, Didier Deschamps memanggil 23 pemain yang 15 dari totalnya merupakan pemain imigran.

Keberadaan 15 pemain imigran juga menjadi tulang punggung saat Prancis menjadi juara. Ada Ousmane Dembelle dan Thomas Lemar yang berasal dari Nigeria. N’golo Kante keturunan Mali. Paul Pogba mempunyai darah Guinea. Nabil Fekir yang dari Algeria. Serta Samuel Umtiti dan Kylian Mbappe yang keturunan dari Kamerun,

Sedangkan untuk Piala Dunia 2022, tidak berbeda jauh dengan skuat 2018. Ada tambahan beberapa pemain imigran, misalnya seperti Eduardo Camavinga yang berdarah Kongo. Tchouameni dan William Saliba mempunyai darah keturunan Kamerun. Jules Kounde dari Benin. Serta Dayot Upamecano dari Guinea.

Imigran Yang Membangun Sepakbola Prancis
Sumber: NY Times

Tentunya dengan keberagaman ini bisa menjadi senjata yang ampuh bagi Prancis dalam mengarungi Piala Dunia 2022 di Qatar. Tinggal kita nantikan bagaimana peran para pemain imigran Prancis ini yang sudah dari lama sangat berjasa dalam kemajuan sepakbola Prancis.

Karena sejatinya sepakbola itu milik semua orang, tak lepas dari apa pun suku, budaya, agama maupun ideologi. Tabik!


Posted

in

,

by

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *