Senjata Prancis: Institut National du Football de Clairefontaine

Senjata Prancis: Institut National du Football de Clairefontaine

Senjata Prancis: Institut National du Football de Clairefontaine

Berapa tahun silam, Prancis bukanlah negara yang cukup kuat dan diperhitungkan dalam kancah sepakbola internasional. Berbeda dengan sekarang yang sudah dianggap sebagai raksasa sepakbola dunia. Dari tahun 1950an hingga 1970an Prancis hanyalah negara Eropa biasa yang prestasinya biasa-biasa saja.

Dikompetisi piala dunia, torehan terbaik Prancis sebelum tahun 1990an adalah menjadi juara ketiga dalam Piala Dunia 1958 dan 1986. Apalagi di kancah kejuaraan antar negara Eropa, lebih memprihatinkan. Dari tahun 1964 sampai 1980 Prancis bahkan tidak lolos ke putaran final, namun mereka berhasil menjadi juara di edisi 1984. Itu pun sebab kegemilangan Michael Platini.

Berdasarkan prestasi yang buruk di kancah sepakbola dunia, Federasi Sepakbola Prancis (FFF) akhirnya menginisiasi untuk membentuk sebuah akademi sepakbola beserta dengan fasilitas serta pusat latihan bagi tim nasional Prancis untuk mengejar ketertinggalan mereka terhadap negara tetangganya.

Senjata Prancis: Institut National du Football de Clairefontaine
Sumber: Marking The Spot

Sejarah Clairefontaine

Presiden FFF saat itu, Fernand Sastre bersama dengan Stefan Kovacs mantan pelatih Prancis menginisiasi adanya gagasan ini. Kovacs merupakan satu-satunya pelatih Prancis yang bukan berwarganegara Prancis. Ia merupakan orang Rumania. Ide Kovacs sendiri terinspirasi dari pusat pelatihan komunis di daerahnya

Maka mereka berdua bersepakat untuk membangun akademi sepakbola dan pusat latihan bernama Institut national du football de Clairefontaine pada 1985. Pusat latihan ini selesai dibangun pada tahun 1988 dan mulai dioperasikan. Pembangunannya terletak diatas lahan seluas 56 hektar yang berlokasi di tengah hutan Rambouillet 50 km dari barat daya kota Paris.

Selain diperuntukkan sebagai tempat pusat latihan tim nasional Prancis di segala usia, Clairefontaine juga terdapat sebuah akademi untuk usia 13-15 tahun. Namun, akademi ini mempunyai syarat yang menarik. S

ebab mereka hanya akan mengambil 23 anak tiap musimnya. Selain itu, anak yang mendaftar pun tinggal atau bermain di sekitar wilayah Île-de-France, Seine-Maritime atau Eure. Para pemain berlatih di Clairefontaine dari Minggu hingga Jumat malam sebelum berangkat bermain untuk klub lokal mereka pada akhir pekan.

Di Clairefontaine ada beragam fasilitas untuk menunjang para pemain tim nasional ketika sedang berlatih maupun para pemain akademi yang berada disana. Ada beberapa lapangan yang berstandar tinggi, hotel berbintang, ruang kebugaran, pusat kesehatan hingga tempat rekreasi pun tersedia disana.

Yang menarik dari tempat rekreasi tersebut ada jagoannya tersendiri. Ada Pogba yang mahir bermain Playstation juga sebagai raja pingpong disana. Ada juga kapten Lloris yang merupakan jagoan permainan biliar. Intinya, segala macam kebutuhan pribadi ada disana, bahkan tukang cukur pun ada!

Kurikulum Clairefontaine

Sepakbola Prancis tidak memiliki filosofi bermain yang paten seperti Spanyol, Belanda hingga Italia. Mereka melalui Clairefontaine lebih memilih membangun dan mengembangkan bakat para pemainnya lewat kemampuan individu mereka masing-masing dengan menggunakan skema dasar taktik 4-3-3.

Pengembangan kemampuan individunya pun tidak melulu tentang taktis semua. Disana diajarkan juga untuk pengembangan diri agar mereka tidak hanya mahir akan taktik, namun juga secara teknis mereka diajarkan sehingga mereka bisa memainkan bergaram peran di lapangan.

Kualitas individu yang menjadi makanan utama mereka para pemain akademi adalah; mampu bergerak secepat mungkin, meningkatkan kemampuan kaki terlemahnya serta mampu membuat keputusan yang tepat di lapangan.

Senjata Prancis: Institut National du Football de Clairefontaine
Replika trofi Piala Dunia dan dua bintang di INF Clairefontaine | Sumber: The Star

Pada tahun pertama, mereka yang berlatih disana akan difokuskan pada kemampuan kaki dengan bola serta pengembangan individu. Selanjutnya diarahkan ke struktur bermain dan kesadaran ketika bermain yang kemudian mencoba lapangan kecil. Setelah semuanya berhasil, mereka baru bisa mencoba untuk bermain di lapangan yang lebar.

Selain itu, disana juga ada yang namanya ujian atau tes. Tesnya meliputi tiga hal, psikologi, medis dan fisik. Tes psikologi berhubungan dengan kepribadian mereka baik itu nanti ketika dia berada di lapangan maupun di luar lapangan. Hal ini bertujuan untuk membentuk mental pemain.

Sedangkan tes medis dilakukan guna melihat ada masalah pada cedera mereka jua pemeriksaan mata beserta dengan gigi mereka. Serta tes fisik guna melihat kemampuan fisik mereka seperti VO2 Max dan lain sebagainya.

Sampai sekarang, kurikulum yang dipakai di Clairefontaine sudah banyak diadopsi oleh beberapa akademi, misalnya La Masia yang datang untuk belajar langsung. Atau Inggris yang mulai meniru dengan membangun St. George Park National Football Centre yang jadi kamp latihan tim nasional Inggris.

Hasil dari Clairefontaine

Michael Cox dalam bukunya Zonal Marking mengatakan bahwa ada dua kubu ideologi permainan Prancis, satu yang mengedepankan kemampuan fisik dan kerja keras, satunya lagi menekankan pada teknik dan gaya bermain.

Perkataan Cox ini tercermin ketika Prancis menjadi juara Piala Dunia 2018. Saat itu double pivot mereka adalah N’golo Kante dan Paul Pogba. Mereka berdua mempunya perbedaan ideologi permainan seperti apa yang dituliskan Cox di bukunya. Namun perbedaan inilah yang akhirnya dapat mengantarkan mereka meraih juara.

Sampai sekarang, banyak prestasi yang ditorehkan oleh Prancis semenjak adanya Clairefontaine. Di awali dengan menjadi juara Piala Dunia 1998 untuk pertama kalinya, Piala Eropa 2000, Piala Konfederasi 2001 dan 2003, Piala Dunia 2018 serta UEFA Nations League 2021. Selain itu juga sempat menjadi runner-up Piala Dunia 2006 dan Piala Eropa 2016.

Dari produk pemain yang dihasilkan Clairefontaine tidak main-main. Ada nama beken seperti Thierry Henry, Nicholas Anelka, Louis Saha, William Gallas, Hatem Ben Arfa, Dimitri Payet, N’golo Kante hingga yang terbaru ada Kylian Mbappe.

Senjata Prancis: Institut National du Football de Clairefontaine
Sumber: FIFA

***

Sekarang Clairefontaine bisa dibilang sebagai salah satu pusat latihan terbaik di dunia, apalagi dengan adanya akademi mereka yang terus ada. Segala macam teknologi dan fasilitas disana pun akan selalu dikembangkan seiring dengan perkembangan zaman yang terjadi.

Tentu besar harapan generasi emas dari Prancis akan selalu terus ada dan tak akan pernah mati selama Clairefontaine  masih eksis dalam pembinaan pemain berbakat di Prancis.

Tabik!


Posted

in

,

by

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *