Kilas Balik Perang Dingin Ghana Melawan Uruguay

Kilas Balik Perang Dingin Ghana Melawan Uruguay

Malam itu menjadi malam yang sangat emosional bagi seluruh warga negara Ghana. Bagaimana tidak, harapan mereka untuk menjadi negara Afrika pertama yang lolos ke babak semifinal piala dunia harus sirna dengan segala kontroversi yang terjadi.

Disisi yang lain, Uruguay yang saat itu menjadi lawan Ghana bersuka cita. Sebab, mereka bisa menundukkan Ghana ’hanya’ dengan 10 pemain diujung babak kedua ditambah perpanjangan waktu selama dua babak serta adu penalti.

Read More

Hari itu, 2 Juli 2010 tepatnya di Soccer City, kota Johannesburg menjadi saksi bisu kedua negara memulai perang dinginnya. Saat itu sedang berlangsung pertandingan perempat final Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan. Pertandingan tersebut akan selalu dikenang baik maupun buruk dalam sejarah sepakbola di dunia.

Ghana yang Perkasa

Pada Piala Dunia 2010 saat itu, merupakan penampilan kedua Ghana di ajang tertinggi di dunia tersebut. Sebelumnya, mereka pertama kali lolos ke Piala Dunia pada tahun 2006. Saat itu mereka tergabung dalam grup bersama Italia, Republik Ceko dan Amerika.

Secara mengejutkan mereka berhasil lolos menemani Italia ke babak selanjutnya. Namun sayang, keajaiban mereka hanya sampai di babak 16 besar sebelum akhirnya dikalahkan oleh Brazil dengan skor telak 3-0. Tapi hasil tersebut dipandang impresif mengingat mereka baru debut pertama kalinya bermain di piala dunia.

Pada edisi selanjutnya, tepatnya pada Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan, The Black Star datang dengan membawa skuat mudanya. Mereka menjadi negara kontestan dengan rerata umur termuda diantara kontestan lainnya dengan rerata 23 tahun 352 hari.

Keberanian Milovan Rajevac pelatih Ghana saat itu membawa pemain muda sebab pada tahun tersebut Ghana U-20 berhasil menjadi juara di Youth Africa Cup of Nations dan Piala Dunia U-20. Bintang muda mereka saat itu yang akhirnya dibawa ke Afrika Selatan antara lain: Andre Ayew, Jonathan Mensah, Dominic Adiyiah, Samuel Inkoom dan Daniel Agyei.

Kilas Balik Perang Dingin Ghana Melawan Uruguay
Sumber: Pulse Ghana

Ghana saat itu tergabung di grup D bersama dengan Jerman, Australia dan Serbia. Pada akhirnya, Ghana berhasil lolos dari grup menemani Jerman sebagai juara grup setelah mengoleksi 4 poin bersama dengan Australia. Mereka hanya unggul selisih gol sehingga mereka dapat melaju ke babak 16 besar.

Pada babak 16 besar, mereka berhadapan dengan Amerika. Dalam pertandingan tersebut pada awalnya berjalan imbang 1-1 hingga waktu normal berakhir. Kemudian baru diawal babak pertama perpanjangan waktu, Asamoah Gyan mencetak gol dan membawa Ghana melampaui rekor mereka untuk melaju ke perempat final setelah diedisi sebelumnya hanya sampai di babak 16 besar.

Itulah perjalanan bagaimana The Black Stars mengukir cerita di Piala Dunia 2010 sebelum akhirnya bertemu dengan Uruguay di babak perempat final.

Kebangkitan Uruguay

Berbeda dengan Ghana yang masih tergolong baru di gelaran piala dunia, Uruguay merupakan negara yang sudah tidak asing lagi dengan kejuaraan ini. Mereka bahkan pernah berjaya di tahun 1930an yang mana saat itu mereka menjadi juara pada tahun yang sama.

Mereka datang ke Afrika Selatan pada tahun 2010 dengan semangat yang membara setelah di periode sebelumnya mereka mengalami kemunduran. Dengan tak terduga, mereka kalah pada playoff Piala Dunia 2006 melawan Australia yang membuat mereka harus absen di Piala Dunia 2006.

Setelah menunjuk Óscar Tabárez sebagai pelatih, Uruguay perlahan mulai menemukan tajinya. Di kualifikasi Piala Dunia 2010 mereka berhasil menyingkirkan Kostarika di babak playoff.

Kilas Balik Perang Dingin Ghana Melawan Uruguay
Sumber: bleacherreport

Pada Piala Dunia 2010, mereka tergabung bersama sang tuan rumah Afrika Selatan, Prancis dan Meksiko. Namun secara mengejutkan La Celeste berhasil menjadi juara grup dan lolos ke babak 16 besar bersama dengan Meksiko. Ini merupakan pertama kalinya Uruguay menjadi juara grup sejak Piala Dunia 1954 di Swiss.

Forlan dan Suarez selama turnamen tampil dengan luar biasa. Bahkan, Suarez mampu membawa Uruguay lolos ke perempat final setelah mencetak dua gol dengan kemenangan Uruguay atas Korea Selatan 2-1. Hasil tersebut kemudian membawa Uruguay berhadapan dengan Ghana di perempat final.

Tragedi Soccer City

Pertandingan perempat final yang mempertemukan Uruguay melawan Ghana menjadi sangat menarik. Bahkan, seorang Nelson Mandela mengirimkan surat ke ketua federasi sepakbola Ghana yang berbunyi “Seluruh Afrika berada di belakang Ghana. Kami ingin Anda terus maju dan memenangkan Piala Dunia.”

Seluruh penonton di stadion saat itu meniupkan vuvuzela yang membuat seluruh stadion bergema dan hampir semua penonton saat itu mendukung Ghana untuk menang, sebab mereka bermain di benua mereka, Afrika.

Pertandingan berjalan seperti biasa hingga pada ujung babak pertama 84 ribu penonton sontak bergembira. Sebab, Muntari berhasil mengoyak gawang Muslera dari jarak 35 yard setelah menerima umpan dari Asamoah Gyan. Dengan itu mereka menutup babak pertama dengan 1-0.

Memasuki babak kedua, Uruguay mengganti formasi mereka. Buktinya, setelah 15 menit babak kedua berjalan 84 ribu penonton dibuat terdiam. Sebab, tendangan bebas Forlan saat itu mampu menjebol gawang Kingson. Dengan itu Uruguay berhasil menyamakan kedudukan. Hasil imbang tersebut memaksa kedua negara bermain hingga babak perpanjangan waktu.

Pada perpanjangan waktu, terjadi sebuah insiden di depan kemelut gawang Uruguay yang berawal dari tendangan bebas Ghana. Tandukan kepala Dominic Adiyiah didepan gawan berhasil melawati Musrela, namun saat itu Suarez yang berada di belakang Musela menahan bola dengan tangannya seolah ia adalah kiper.

Hal itu membuat Suarez dikartu merah langsung dan Ghana dihadiahi penalti. Asamoah Gyan yang ditunjuk menjadi algojo penalti gagal menjalankan amanahnya. Ia terlalu keras menendang bola sehingga melayang diatas Musrela walaupun sempat mengenai tiang gawang bagian atas.

Hal tersebut memaksa pertandingan dilanjutkan lagi melalui adu penalti. Sayang seribu sayang, dalam adu penalti Ghana harus takluk dari Uruguay. Sirna sudah harapan menjadi negara Afrika pertama yang melaju ke babak semifinal piala dunia. Padahal harapan tersebut sebenarnya sudah didepan mata mereka, namun Tuhan berkehendak lain.

Setelah kemenangan dramatis Uruguay melawan Ghana, Suarez bilang bahwa “’Tangan Tuhan’ sekarang menjadi milik saya” dan “Saya melakukan penyelamatan terbaik di turnamen ini.”

***

Sekarang, setelah 12 tahun berlalu, akhirnya Ghana mempunyai kesempatan untuk ‘balas dendam’ terhadap apa yang Uruguay telah lakukan kepada mereka pada tahun 2010, terkhusus Luis Suarez.

Pada Piala Dunia 2022, The Black Star tergabung bersama Le Caleste dalam satu grup dan mereka akan saling menghadapi pada pertandingan terakhir grup H. Mereka sama-sama membutuhkan kemenangan untuk dapat melaju ke babak 16 besar.

Kita tunggu saja apakah Ghana dapat membalaskan dendamnya 12 tahun silam atau justru Uruguay yang akan memperpanjang kesedihan Ghana?

Tabik!

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *