Menunggu Kebangkitan Sepakbola Uruguay

Menunggu Kebangkitan Sepakbola Uruguay

Berbicara tentang kebangkitan suatu negara dalam hal sepakbola, tentunya kita patut memperhitungkan Uruguay dalam hal ini. Dahulu, tepatnya pada awal abad 19an Uruguay merupakan negara dengan prestasi sepakbola yang tidak bisa dipandang remeh. Dari semua gelar internasional sudah mereka koleksi seperti medali emas Olimpiade dua kali, Copa Amerika sebanyak 15 kali dan Piala Dunia dua kali.

Namun, kejayaan mereka hanya pada awal abad 19an. Setelahnya, mereka hanya sebuah negara biasa yang tidak diperhitungkan di kancah dunia. Selain sebagai negara pertama yang menjuarai piala dunia, Uruguay memiliki identitas yang lekat dengan sepakbola mereka.

Read More

Akan tetapi, identitas sepakbola mereka bukanlah permainan yang indah atau filosofi yang menawan. Identitas mereka adalah kasar, keras dan curang. Sebagai contoh, pada Piala Dunia 1966 melawan Jerman Barat ketika Hector Silva dikartu merah akibat tekel kerasnya dan harus dikawal polisi untuk meninggalkan lapangan.

Yang terbaru ada aktor terkenal bernama Luis Suarez yang beberapa kali melakukan adegan kontroversi. Pertama ketika ia menggigit Giorgio Chiellini dan menahan sundulan menggunakan tangganya padahal ia bukan seorang penjaga gawang.

Persetan Dengan Moraitas

Pada Piala Dunia 2010, ada seorang antihero yang muncul pada perempat final Piala Dunia 2010 yang mempertemukan Uruguay dan Ghana. Orang itu adalah Luis Suarez. Dia mengorbankan dirinya disebut sebagai orang yang paling curang dan tidak sportif untuk negaranya Uruguay melaju lebih jauh di piala dunia.

Saat itu ia menahan sundulan Dominic Adiyiah dengan tangannya didepan gawang yang kosong saat memasuki waktu akhir pertandingan. Padahal saat itu kududukkan sedang imbang, apabila Suarez tidak menahannya maka Uruguay dipastikan pulang lebih awal.

Suarez Handball
Sumber: goal.com

Namun ia akhirnya bisa menjadi pahlawan bagi negaranya ketika penalti yang diberikan akibat handsball tersebut melebar jauh dari sasaran yang saat itu ditendang oleh Asamoah Gyan. Berkat itu pula pertandingan dilanjutkan hingga ke babak adu penalti. Naas bagi Ghana, mereka harus mengubur impiannya untuk menjadi negara pertama yang melaju ke semifinal Piala Dunia setelah kalah dibabak tersebut.

Walaupun pada akhirnya Uruguay harus kalah dari Belanda di semifinal dan kalah lagi melawan Jerman di perebutan tempat ketiga. Namun, menjadi juara keempat merupakan prestasi yang luar biasa bagi mereka. Sebab, terakhir kali mereka berada pada posisi tersebut pada tahun 1970.

Sejarah dan Prestasi

Sama seperti beberapa negara lainnya, sepakbola di Uruguay juga dipengaruhi oleh Inggris. Sekitar tahun 1870an ketika orang Inggris memperkenalkan sepakbola ke Amerika Selatan. Sebelum ke Uruguay, mereka memperkenalkan terlebih dahulu olahraga ini ke Argentina.

Pada tahun 1882, sepakbola berkembang pesat di Uruguay. Saat itu, seorang guru Sekolah William Leslie Poole mendirikan klub sepakbola pertama bernama Albion FC. Selain itu, sembilan tahun setelah Albion berdiri, muncul lagi klub bernama Central Uruguay Railway Cricket Club (CURCC) yang sekarang menjadi Club Atletico Penarol.

Albion FC
Sumber: Wikimedia Commons

Sampai pada tahun 1920an, sepakbola Uruguay berada di bawah pengaruh Inggris. Namun perlahan tapi pasti Uruguay mulai melahirkan identitasnya sendiri. Terbukti pada 1924 dan 1928 mereka berhasil menjuarai Olimpiade. Mereka saat itu sudah bermain dengan umpan pendek dan pergerakan manis, sedangkan negara Eropa lainnya masih menggunakan kekuatan fisik.

Ketika sedang naik-naiknya, Uruguay akhirnya ditunjuk menjadi tuan rumah Piala Dunia edisi pertama pada 1930. Namun, pada tahun tersebut banyak negara di Eropa sana yang memboikot ajang ini. Sebab, ongkos untuk kesana yang dianggap terlalu mahal.

La Celeste (julukan Uruguay) pada pertandingan pertama piala dunia dapat mengalahkan Peru dengan skor tipis 1-0. Pada babak selanjutnya, mereka melumat Rumania dengan skor tela 4-0. Pada babak semifinal, Uruguay semakin digdaya. Mereka melibas Yugoslavia dengan skor 6-1.

Di partai final, mereka bertemu dengan Argentina disana. Sempat unggul 1-2, Argentina akhirnya harus merelakan gelar juara ke sang tuan rumah setelah papan skor menunjukkan 4-2 untuk kemenangan Uruguay.

Uruguay 1930
Sumber: FIFA.com

Pada dua edisi piala dunia selanjutnya, Uruguay membalas dendam kepada negara Eropa. Mereka melakukan boikot untuk tidak mengikuti piala dunia saat itu. Baru pada 1950, Uruguay akhirnya mengikuti ajang tersebut yang digelar di Brazil.

Walaupun datang dengan status yang tidak diunggulkan, Uruguay membungkam para kontestan lain dengan melaju hingga babak final dan mengalahkan Brazil di final sekaligus menegaskan dirinya untuk menjadi negara dengan dua koleksi trofi piala dunianya.

Sayangnya, setelah itu prestasi Uruguay cenderung menurun. Puncaknya ketika ada junta militer pada tahun 1973. Namun setelah junta militer berakhir, Uruguay kembali pentas di piala dunia lagi pada tahun 1986.

Semenjak saat itu prestasi Uruguay perlahan membaik walaupun hingga saat ini taring Uruguay di kancah internasional belum terlihat kembali seperti ketika mereka menjadi raksasa pada tahun 1930an yang disebut sebagai era keemasan sepakbola Uruguay.

Sekarang tinggal menunggu waktu saja La Celeste menunjukkan taringnya kembali. Sungguh sangat dinantikan kebangkitan dari La Celeste ini di kancah internasional seperti piala dunia kali ini.

Tabik!

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *