Sepak Bola Indonesia dan Tragedi

Ayosport.com – Sepak bola kerapkali membuat penggemarnya menangis. Hasil buruk yang didapat klub kesayangannya mampu membuat satu suporter remuk hatinya.

Sampai sekarang, insiden kerusuhan suporter masih tetap terjadi di sepak bola nasional, baik Liga 1, Liga 2, apa lagi Liga 3. Bentrok suporter adalah penyakit kronis yang sudah turun-menurun menular ke berbagai generasi. Untuk mengatasinya, butuh obat yang tidak hanya menuju inti persoalan itu saja yaitu suporter, tapi juga ke cabang-cabangnya.

Suporter berbuat anarkis bukan terjadi begitu saja. Pasti ada yang memberi contoh, dan ada sebabnya mereka mau mencontoh. Rendahnya tingkat pendidikan salah satu sebabnya, yang membuat para oknum suporter dengan entengnya berpikir kalau rival abadi adalah musuh yang harus dibasmi.

Padahal, di sepak bola yang disebut adalah lawan bukan musuh. Bahasa Inggris juga membedakan, antara opponent (lawan) dan enemy (musuh). Pemahaman ini yang sering luput atau disalahartikan di sebagian kalangan suporter.

Meluruskan pemahaman yang salah memang butuh waktu, tapi tidak mustahil dilakukan. Memberi contoh dukungan yang baik jadi salah satunya, seperti tidak menyanyikan chants “dibunuh saja” atau yang bernada provokatif lainnya. Tifo dan desain pernak-pernik klub juga bisa jadi cara lain untuk menyingkirkan jauh-jauh doktrin bahwa rival adalah manusia yang harus dienyahkan.

Akan tetapi membenahi perilaku negatif suporter sepak bola tidak bisa hanya dari lingkup sepak bola itu saja. Pendidikan juga memegang peranan penting, disertai budaya santun yang dibiasakan di kehidupan sehari-hari. Perilaku orang dewasa juga memiliki andil, mengingat sebagian besar pelaku kerusuhan adalah usia pelajar yang gemar mencontoh perbuatan para seniornya. Faktor-faktor tersebut bisa membentuk perilaku suporter yang baik, yang sebenarnya jumlahnya juga tidak sedikit.

Tragedi Kanjuruhan menjadi tragedi terbesar dalam sejarah Indonesia di luar kondisi perang, bencana, kecelakaan transportasi dan wabah. Ini bukanlah tragedi sepakbola Indonesia, ini adalah tragedinya Indonesia.

Tidak cukup dengan sekadar menghentikan liga sementara. Ini tidak boleh sekadar menghentikan rutinitas harian, atau jeda atas hal-hal biasa. Penghentian liga mesti ditindaklanjuti dengan pengusutan yang tuntas, komprehensif dan menyisir semua aspek dan pihak yang terlibat secara langsung mau pun tidak langsung.

Cara-cara luar biasa mutlak dilakukan karena kematian suporter sudah telanjur menjadi hal biasa, sudah telanjur dianggap hal sehari-hari. Dari waktu ke waktu, seluruh otoritas yang terkait pertandingan sepakbola yang mematikan seperti ini tidak pernah secara menyeluruh dimintai pertanggungjawaban.

Karena Tragedi Kanjuruhan bukanlah tragedi sepakbola atau olahraga, melainkan tragedi Indonesia, investigasi atas peristiwa ini harus dipimpin oleh otoritas tertinggi negeri ini. Menurut hemat kami, Kemenpora, PSSI, KONI bahkan kepolisian menjadi bagian dari tragedi ini sehingga sangat penting investigasi dipimpin oleh minimal setingkat Menko.

Hanya dengan itu pesan politiknya menjadi tegas: negara hadir, pemerintah hadir. Karena memang negara dan pemerintah mutlak hadir. Tidak bisa tidak!

 


Posted

in

,

by

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *