Kendalikan Emosimu, Suporter

Suporter

Ayosport.comNegeri kita sudah terbiasa dengan stadion Pemda, stadion dengan lintasan lari, di mana jarak antara tribun dan lapangan cukup jauh. Tribun, tidak jarang dipasangi pagar tinggi menjulang, dan ada bagian atas pagar dililiti kawat berduri. Itu sudah menjadi standar keamanan di seluruh tribun Indonesia.

Kita punya adab buruk dalam menonton sepak bola. Lemparan botol, nyanyian rasis, suporter masuk ke lapangan, sudah jadi hal lumrah. Semua itu dilakukan atas azas kecintaan, kepada klub yang mereka cintai. Saat pertandingan berjalan tidak menarik, tak jarang mereka masuk ke lapangan, mengganggu jalannya pertandingan, mengganggu konsentrasi pemain tuan rumah maupun tim tamu.

Di kurun waktu 2 tahun ini, invasi suporter ke lapangan sudah sering terjadi. Tiap tahunnya pasti ada saja yang melakukan. Entah itu dari suporter mana, yang pasti, tiap tahunnya hal ini tidak alfa dalam permasalahan sepak bola Indonesia. Pagar tribun sekedar untuk formalitas stadion saja. Mereka (pagar) tidak berdaya untuk mencegah oknum suporter yang masuk ke lapangan.

Alasan demi alasan mereka utarakan bermacam-macam. Yang paling tinggi itu protes kepada wasit, selanjutnya protes kepada manajemen dan selebihnya luapan kekecewaan akibat kekalahan. Tak jarang ini menimbulkan pro dan kontra dan berakhir dengan perkelahian.

Di Eropa ada kultur sepak bola bernama Hooligan. Menurut Russia Beyond dalam sebuah artikel mengatakan “Hooligan tak memukul semua orang, mereka hanya berkelahi dengan Hooligan dari tim lawan”.

Masih dikutip dari Russia Beyond, kultur ultras memiliki musuh dari tim lain dan terkadang terlibat dalam perkelahian. Biasanya terjadi di luar stadion. mereka biasa berkelahi satu sama lain di tempat terbuka atau di hutan. Tergantung kesepakatan bersama.

Suporter Indonesia itu stereotip atau kasarnya meniru. Mereka meniru untuk saling baku pukul, tapi tidak dengan perjanjian. Masuk ke lapangan tanpa dosa dan menunda laga. Membuang-buang waktu mereka yang dahaga dengan sepak bola.

Ada pula invasi dilakukan karena protes kepada pihak manajemen dengan dalih  performa tim menurun. Untuk alasan ini ‘sih’ masih bisa diterima. Tetapi (sekali lagi) bukan di atas lapangan pertandingan, itu sangat mengganggu jalannya pertandingan.

Aston Villa (17/01/15) melakukan protes pada manajemen dengan mengosongkan tribun di 8 menit pertama dengan maksud protes pada penurunan kualitas permainan tim. Namun mereka kembali lagi untuk menyaksikan 82 menit tersisa seperti dikutip dari detik.com di kolom sepak bola.

Pada 1 Januari 20018 supporter Newcastle datang terlambat 11 menit selepas sepak mula. Kali ini isi protes ditujukan kepada manajemen akibat dari performa tim dan kebijakan tiket pertandingan.

Dua kasus di atas merupakan contoh protes yang dilakukan dengan cara elegan. Tanpa masuk ke lapangan pertandingan. Ini salah satu cara menyindir manajemen tanpa merusak. Terlebih lagi banyaknya orang yang masuk ke lapangan dengan tapak sepatu yang tidak steril akan menimbulkan resiko kerusakan rumput. Pasti tidak baik untuk keberlangsungan rumput stadion.

Suporter kita memang fanatik kelas berat. Semua jenis fanatik mereka kuasai. Euforia merayakan sepak bola dinilai kelewat batas. Dalam istilah fanatik diartikan segala sesuatu yang mereka lakukan adalah benar dan lain dari mereka adalah sebuah  kesalahan (ini selalu jadi pembenaran saat ada kejadian).

Bila pun ada gesekan seharusnya hadapi secara jantan. Lakukan itu di luar lapangan pertandingan. Bersikap jantan seperti ultras, melakukan perjanjian pertarungan di luar markas klub yang mereka dibela.

Bertarung seperti Hooligan mereka memukuli hooligan musuh. (Ini) perlu digaris bawahi berkelahi dengan suatu grup hooligan yang lain. Bukan semua penggemar klub lain. Atau dapat diartikan ini pertikaian grup dengan grup.

Sudah saatnya hentikan invasi ke lapangan pertandingan. Mari protes dengan cara cerdas. Bentangkan spanduk satire dan nyanyikan lagu sindiran pada manajemen itu sudah cukup. Terlepas dari faktor non teknis di lapangan seperti wasit berat sebelah atau manajemen klub yang buruk. Setidaknya, mari menikmati 90 menit untuk merayakan sepak bola.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.