Gianfranco Zola Sang Penyihir Kecil

Gianfranco Zola-Chelsea

Ayosport.comMenonton pertandingan-pertandingan Zola bersama Chelsea, baik siaran langsung maupun hanya cuplikan, rasanya sangat menarik bagi saya. Melihat bagaimana Zola mengolah si kulit bundar di atas rumput hijau lapangan sepak bola selalu memberi impresi yang berbeda untuk saya. Gocekan mautnya, umpan-umpan brilian yang bisa kakinya lepaskan, sampai gol-gol indah yang bisa dibuat tungkai maupun kepalanya adalah keindahan tak terperi.

Zola yang banyak menjalani kariernya di Italia langsung nyetel dengan permainan Inggris dan Chelsea. Tak butuh waktu lama, pada Mei 1997 ia berhasil memberi gelar perdana ke The Blues setelah berpuasa hampir 20 tahun lebih. Dampak yang Gianfranco Zola berikan kepada Chelsea pun terbilang masif. Banyak yang menduga dengan fisiknya yang kecil untuk ukuran pesepak bola ia akan kesulitan di Liga Inggris yang kala itu terkenal dengan permainan keras.

Read More

Bersama Marcel Desailly, Roberto Di Matteo, Tore Andre Flo, Frank Lebouef, Graeme Le Saux, Dan Petrescu, Gustavo Poyet, Gianluca Vialli dan Wise, Zola yang ditransfer dari Parma dengan mahar 4,5 juta paun pada musim panas 1996, berhasil membawa Chelsea bertransformasi menjadi klub yang lebih disegani di tanah Inggris. Jujur saja, sebelum era Zola, The Blues memang tak lebih dari klub pelengkap di Liga Primer Inggris.

Selama tujuh musim berseragam biru khas Chelsea, Zola bermain di 312 pertandingan serta mencetak 80 gol di semua kompetisi. Dirinya juga sanggup menyumbangkan enam buah silverwares. Masing-masing berupa dua titel Piala FA (1997 dan 2000), sebiji trofi Piala Liga (1998), satu Charity Shield (2000), satu Piala Winners (1998) dan satu Piala Super Eropa (1998). Lebih dari itu, Chelsea juga konsisten berada di papan atas walau belum sanggup meraih titel juara liga.

Ketika usianya sudah menginjak 37 tahun, Zola meninggalkan Stamford Bridge untuk mudik ke kampung halamannya, Pulau Sardinia di Italia. Padahal, ketika itu The Blues baru saja diakuisisi oleh pengusaha asal Rusia, Roman Abramovich. Pemain yang mendapat julukan Si Kotak Ajaib dari suporter Chelsea ini lantas memperkuat tim paling top di sana, Cagliari Calcio.

Namun, sejumlah kabar menyebut jika Abramovich sempat meminta Zola untuk bertahan di London bersama Chelsea meski usianya semakin uzur. Bahkan, sang taipan minyak juga disebut-sebut oleh media siap membeli Cagliari saat mengetahui Zola bersikukuh hijrah ke Gli Isolani sekaligus menepati janjinya kepada publik Sardinia.

Datang sebagai salah satu legiun asing pertama asal Negeri Pizza di tanah Britania, lelaki yang hari ini merayakan ulang tahunnya yang ke-51 itu, mewariskan begitu banyak kisah mengagumkan. The Sun bahkan memasukkannya sebagai satu dari sepuluh pemain asing paling “artistik” yang pernah merumput di Liga Inggris. Dalam voting tersebut, Zola finis di peringkat kedua, tepat di bawah legenda Manchester United asal Irlandia Utara, George Best.

Bagi mayoritas pendukung Chelsea, nama Zola masih dianggap sebagai pemain terbaik The Blues sepanjang sejarah. Mengungguli beberapa legenda lain semisal Didier Drogba, Frank Lampard ataupun John Terry yang jadi tulang punggung kesuksesan Chelsea meraup sejumlah trofi-trofi prestisius.

Bahkan, nomor punggung 25 yang dahulu dikenakan Zola masih tetap lowong hingga kini alias tak ada satu pemain pun yang berani mengenakannya. Padahal, pihak Chelsea juga tak pernah merilis pernyataan resmi jika nomor punggung itu dipensiunkan sebagai bentuk penghormatan bagi Si Kotak Ajaib.

Bagi saya pribadi,saya takkan pernah ragu ataupun malu untuk menyebut bahwa sosok yang membuat saya jatuh cinta dan menaruh perhatian lebih pada sepak bola Eropa adalah Gianfranco Zola.

 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.