Joga Bonito Brazil Yang Menawan

Joga Bonito Brazil Yang Menawan

Joga Bonito Brazil Yang Menawan

Gol tendangan salto Richarlison pada saat Brazil melawan Serbia di pertandingan fase grup Piala Dunia 2022 dan merayakannya bersama rekannya dengan cara menari bersama merupakan pengingat bahwa La Seleção mulai kembali dengan cara tidak meninggalkan identitas mereka yaitu Joga Bonito.

Kalau kita melihat dan mengamati selebrasi pemain Brazil ketika mencetak gol di Piala Dunia 2022, banyak dari mereka yang melakukannya bersama dengan rekan mereka sambil menari dan bergoyang bersama, bahkan pelatih mereka pun melakukan hal yang serupa. Menari dan bergembira, itulah Brazil.

Sejarah Joga Bonito

Gregg Bocketti, dalam bukunya berjudul “The Invention of the Beautiful Game”, menyebutkan bahwa Joga Bonito adalah ciptaan bukan penemuan. Ciptaan ini dibangun diatas ide dan perdebatan para Brazilian sejak dulu, ketika orang Eropa membawa sepakbola ke tanah mereka.

Joga Bonito merupakan bahasa Portugis yang artinya the beautiful game atau permainan yang indah. Frasa ini dipopulerkan oleh legenda hidup Brazil, Pele. Ia dengan segala pengaruh dan ketenarannya, berhasil membuat istilah Joga Bonito masuk dalam budaya pop sepakbola Brazil.

Ada yang mengatakan bahwa Pele dalam penggunaan frasa Joga Bonito diambil dari terminologi temannya, Waldyr “Didi” Pereira. Ada juga yang menyebutkan penggunaan kata tersebut berawal dari seorang komentator asal Inggris bernama Stuart Hall pada tahun 1950an.

Joga Bonito Brazil Yang Menawan
Sumber: Diario AS

Pengaruh Gingga yang memunculkan Joga Bonito di sepakbola. Gingga sendiri merupakan perpaduan antara bentik seni afro-Brazil seperti samba dengan kapoeira. Perpaduan ini menampilkan ketrampilan dan nilai-nilai seni seperti akrobat dan kebahagiaan dirayakan melalui musik.

Setelahnya, sepakbola sudah merasuk ke dalam masyarakat Brazil. Sepakbola banyak dimainkan di setiap sudut kota dan desa, di lapangan terbuka, lapangan tertutup hingga di gang-gang sempit bahkan di jalanan favela Brazil.

Kejayaan Joga Bonito

Joga Bonito kemudian lama-lama menjadi sebuah filosofi bermain Brazil. Para pemain menganggap lapangan adalah area bermain, mereka bebas memainkan apa pun yang penting bahagia.

Mantan kapten Brazil, Sócrates mengatakan “Kecantikan permainan datang lebih dulu. Kemenangan adalah nomor dua. Yang penting senang”. Kata-kata tersebut seolah menggambarkan filosofi Joga Bonito-lah yang mendasari sepakbola Brazil.

Sejak 1920an dan 1930an, sepakbola Brazil telah menjadi lawan yang sulit bagi negara Eropa saat itu. Dalam kancah internasional, Brazil sudah sejak awal berpartisipasi dalam gelaran piala dunia pertama pada tahun 1930 di Uruguay.

Namun, mereka baru sedikit berjaya pada piala dunia tahun 1938 menjadi juara ketiga, edisi selanjutnya 1950 menjadi runner-up. Mereka baru bisa menjadi juara pada Piala Dunia 1958 di Swedia. Pada partai final, mereka mengalahkan tuan rumah dengan 5-2.

Sejak tahun tersebut, mereka selalu mendominasi di piala dunia. Mereka kemudian menjadi pengoleksi juara dunia terbanyak dengan torehan 5 gelar. Gelar kedua mereka dapatkan setelah edisi selanjutnya ketika mereka juara pertama, yaitu pada tahun 1962 di Chili. Selanjutnya 1970 di Meksiko, 1994 di Amerika dan terakhir 2002 di Korea Jepang.

Joga Bonito Brazil Yang Menawan
Bebeto, Mazinho dan Romario berselebrasi usai mencetak gol ke gawang Amerika pada 1994 | Sumber: The Guardian

Pemain bintang mereka pun selalu muncul disetiap generasinya. Pada tahun 1950an dan 60an ada Pelé, Garrincha, Rivellino & Jairzinho. Selanjutnya ada generasinya Zico, Sócrates dan Falcao. Generasi selanjutnya ada Bebeto dan Romario. Lebih muda lagi ada Ronaldo, Rivaldo, Roberto Carlos, Ronaldinho hingga Kaka. Saat ini, tongkat estafet generasi diteruskan oleh Neymar, Vinicius, Paqueta sampai Richarlison.

Evolusi Joga Bonito

Joga Bonito merupakan filosofi sepakbola, bahkan bisa disebut sebagai ‘the way of life’. Sepakbola yang menggembirakan dan menyenangkan bagi yang bermain maupun menonton. Penekanannya ada pada gaya permainan yang menyerang dan tidak ada batasan kreativitas serta inovasi ketika bermain.

Itulah gaya permainan dari filosofi Joga Bonito. Namun, sekarang seiring dengan berkembangnya kekuatan sepakbola Eropa dan evolusi taktik yang terus terjadi membuat Joga Bonito yang indah itu lambat laun semakin luntur. Tepatnya pada final Piala Dunia 1982 ketika Brazil dengan Joga Bonito-nya ditaklukkan oleh Italia dengan Catenaccio-nya 3-2.

Hal itu kemudian yang mendorong para pemain asal Brazil berlomba-lomba untuk menuntut ilmu di belahan Eropa sana. Sebab, mau tidak mau Brazil harus ikut melakukan revolusi taktik dengan tidak hanya mengandalkan skill individu dan sepakbola menyerang melalui Joga Bonito.

Joga Bonito Brazil Yang Menawan
Sumber: bleacherreport

Pragmatisme Brazil sangat terlihat sekali ketika Carlos Dunga. Saat itu ia menangani Brazil untuk Copa Amerika 2007. Gaya permainan saat itu benar-benar ‘menghilangkan’ Joga Bonito. Pemain dengan skill individu diatas rata-rata tidak ia kedepankan. Ia lebih memilih pemain dengan fisik yang kuat dan mampu bermain secara kolektif.

Gaya permainan ini bisa disebut sebagai anti-Joga Bonito. Sebab, Dunga menggunakan gaya permainan mirip Catenaccio-nya Italia. Sangat terlihat ketika mengalahkan Argentina di final saat itu.

Walaupun pada akhirnya dapat mengantarkan Brazil menjuarai Copa Amerika 2007, namun Dunga mendapat kecaman keras dari masyarakat Brazil karena gaya permainannya. Mereka menganggap bahwa Joga Bonito adalah tradisi dan budaya gen Brazil. Maka dari itu, hal tersebut tidak boleh hilang.

Pada tangan pelatih Brazil saat ini, Tite mencoba untuk mengevolusi sepakbola Brazil dengan menggabungkan sepakbola yang pragmatis sembari sedikit memakai filosofi Joga Bonito. Tite mengatakan “ Naturalnya, kita harus menghargai budaya, menghargai siapa kita. Ini adalah kebahagiaan, ini adalah sukacita. Ini adalah saat kita untuk fokus dan serius. Ada saatnya kita bisa bersenang-senang. Semua orang mempunyai caranya sendiri. Dan cara kami adalah menari”.

***

Sekarang, mari kita lihat, bagaimana Tite mengolah para pemainnya untuk Piala Dunia 2022. Dapatkah mereka menambah bintang pada jersey Canarinho mereka. Sebab, terakhir mereka mengangkat trofi Piala Dunia pada tahun 2002, tepat 20 tahun yang lalu.

Tabik!

 


Posted

in

,

by

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *