Maroko dan Para Warganya yang Berdiaspora

Maroko dan Para Warganya yang Berdiaspora

Maroko dan Para Warganya yang Berdiaspora

Maroko menjadi salah satu negara yang tidak banyak dibicarakan dan tidak diunggulkan sama sekali di Piala Dunia 2022 Qatar. Bahkan untuk sekedar menjadi kuda hitam pun sepertinya sulit. Sebab mereka tergabung dalam grup yang sebenarnya tidak terlalu berat. Namun masih ada Kroasia dan Belgia yang pasti menjadi favorit dalam grup tersebut, dan satunya adalah Kanada.

Namun ternyata, Maroko menjelma menjadi tim kuda hitam di Piala Dunia 2022. Tergabung dalam grup yang tidak terlalu berat, Maroko berhasil menjadi juara grup dengan dua kemenangan melawan Belgia dan Maroko serta imbang melawan Kroasia.

Hal ini membuat banyak orang terkejut dengan pencapaian Maroko. Bagaimana mungkin tim nasional yang banyak dihuni pemain keturunan dan imigran ini berhasil melaju lebih hingga fase gugur Piala Dunia 2022 di Qatar. Hal ini menjadi salah satu pencapaian terbaik Maroko di Piala Dunia setelah tahun 1986 di Meksiko, saat itu mereka berhasil masuk ke 16 besar.

Tapi, yang menjadi uniknya Maroko dalam sektor sepakbola adalah imigrannya. Tercatat bawah 16 dari 26 pemain yang dibawa ke Qatar merupakan bukan pemain yang lahir di Maroko. Bahkan, pelatih mereka tidak lahir di Maroko.

Sejarah Imigran

Imigran di Maroko diawali pada tahun 1960an hingga 1970an. Saat itu terjadi karena faktor ekonomi di Eropa Barat. Karena meningkatnya pertumbuhan ekonomi, mengakibatkan permintaan terhadap tenaga kerja yang mempunyai ketrampilan, salah satunya dari Maroko.

Hal tersebut didukung lagi oleh kondisi Maroko yang tidak stabil, situasi politik yang sedang kacau dan kondisi ekonomi yang sedang buruk. Maka dari itu, bagi warga Maroko yang menginginkan hidup lebih ‘aman’ dan mendapatkan kehidupan lebih baik serta masa depan yang lebih cerah memilih tinggal di Eropa.

Maroko dan Para Warganya yang Berdiaspora
Sumber: 90min

Pada tahun 1965 hingga 1972, penduduk Maroko yang tinggal di Eropa meningkat sepuluh kali lipat. Sedangkan pada 1998, jumlah penduduknya juga kembali meningkat. Bahkan mereka pada akhirnya mendapat Hak Kewarganegaraan sebagai Negara Anggota Uni Eropa bagi mereka yang tinggal di di Belgia, Denmark, Prancis, Italia, Belanda, dan Norwegia.

Sepakbola Imigran

Tim nasional Maroko dibangun dari para warganya yang berdiaspora ke negara Eropa seperti disebutkan diatas. Kalau dilihat dari skuat yang mereka bawa ke beberapa turnamen sebelumnya banyak dihiasi pemain keturunan.

Sebagai contoh pada Piala Dunia 2018, sejumlah 17 dari 23 pemain yang ada lahir di luar Maroko, artinya hanya 6 orang saja yang merupakan warga lokal. Mereka lebih memilih tanah kelahiran orang tua mereka dibanding tanah kelahiran mereka sendiri.

Kenapa demikian sebab mereka memiliki lebih banyak kans untuk selalu dipanggil memperkuat negara buyut mereka dibanding negara kelahiran mereka. Sama halnya pada Piala Afrika 2021, dari total 28 pemain yang dibawa, tercatat ada 18 pemain yang lahir di luar Maroko dan hanya 10 pemain saja yang lahir di Maroko.

Maroko dan Para Warganya yang Berdiaspora
Sumber: Sports Ilustrated

Banyaknya pemain keturunan yang main di Maroko tak lepas dari tangan direktur teknik federasi mereka yaitu Mark Wotte, warga negara Jerman yang ditunjuk pada tahun 2016. Saat itu ia memang menginginkan untuk membawa kembali para warga negara Maroko yang berdiaspora untuk memperkuat Maroko. Bahkan mereka melakukan kamp latihan bagi mereka yang tinggal di Spanyol, Italia, Belanda, Jerman dan Perancis.

Namun, akibat dari banyaknya warga negara keturunan Maroko memunculkan isu nasionalisme. Sebagai contoh, pemain Maroko yang lahir di Belanda mendapatkan perlakuan yang kurang baik.

Beberapa pemain tersebut sering kali mendapatkan cemoohan sebab ada kampanye isu rasial ke warga Maroko yang menjadi minoritas di Belanda. Bahkan, mereka dianggap sebagai ‘sampah’ di Belanda sana.

Piala Dunia 2022

Pada Piala Dunia 2022, skuat Maroko juga tidak lepas dari para imigran. Terhitung ada 16 dari 26 pemain yang lahir di luar Maroko. Bahkan pelatih mereka, Walid Reragui lahir di Paris, Prancis sebelum akhirnya ia memilih Maroko sebagai negaranya dan menjadi kapten tim hingga menjadi pelatih kepala.

Negara yang paling banyak menyumbang adalah Belanda dan Belgia dengan empat pemain. Pemain keturunan Belanda ada Noussair Mazraoui, Sofyan Amrabat, Hakim Ziyech dan Zakaria Aboukhlal. Sedangkan Belgi ada Ilias Chair, Selim Amallah, Bilal El Khannouss serta Anass Zaroury.

Maroko dan Para Warganya yang Berdiaspora
Sumber: FIFA

Selanjutnya ada Spanyol dengan tiga pemainnya yaitu Munir Mohand, Achraf Hakimi dan Ez Abde. Prancis dengan dua pemain yaitu Romain Saïss dan Sofiane Boufal. Serta masing-masing satu untuk Kanada yaitu Yassine Bounou, Jerman yaitu Abdelhamid Sabiri serta Italia yaitu Walid Cheddira.

Dari 16 pemain tersebut plus satu pelatih keturunan, hal itu yang memuat Maroko bisa bertarung lebih lagi di Piala Dunia 2022. Tinggal kita menunggu apakah langkan Maroko hanya cukup sampai di 16 besar saja atau justru mereka bisa membuat sejarah baru mereka dengan lolos ke delapan besar.

Tabik!


Posted

in

,

by

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *