Melupakan Dino Baggio adalah Kesalahan

Dino Baggio- 1997

Ayosport.com – Apa yang muncul di benak Anda ketika mendengar atau membaca nama Roberto Baggio? Rambut kuncir, gerak-gerik lincah dengan teknik olah bola tinggi dan kerap tampil atraktif di atas lapangan, mungkin jadi hal yang beranak-pinak di dalam pikiran Anda sekalian. Harus diakui, dengan segala kelebihan dan kekurangan yang dimilikinya, pria berjuluk Il Divin Codino ini memang salah satu pesepak bola asal Italia terbaik sepanjang masa.

Namun di era 1990-an, nama Baggio bukan hanya milik Roberto seorang. Adalah akademi Torino yang menelurkan bakat seorang pemain belia yang juga punya nama Baggio tetapi dengan nama depan, Dino.

Read More

Mencuat di era ketika seorang Roberto Baggio tengah jadi sorotan utama publik sepak bola dunia mungkin jadi salah satu kesialan bagi Dino Baggio. Apalagi posisi dan karakter bermain Dino berbanding 180 derajat dengan Roberto. Dino adalah seorang gelandang bertahan dengan tubuh menjulang, kokoh dan cenderung lambat, sementara Roberto adalah playmaker jenius bertubuh pendek, cepat dan kerap menyihir khalayak dengan trik-trik luar biasanya.

Dino melakoni debutnya bersama Il Toro kala mentas di Serie B musim 1989/1990. Walau masih terhitung muda, saat itu baru berumur 18 tahun, Dino menunjukkan kepada khalayak bahwa dirinya adalah pesepak bola potensial. Di musim tersebut, Dino ikut membantu Torino menjadi kampiun Serie B dan beroleh tiket promosi ke Serie A.

Pergantian pelatih dari tangan Eugenio Fascetti ke Emiliano Mondonico saat Torino berkiprah di Serie 1990/1991, nyatanya tak membuat pemain kelahiran Camposampiero ini terasing dari tim utama. Mondonico justru begitu memercayai Dino muda sebagai salah satu pilar utama Il Toro di sektor tengah.

Hasilnya pun manis, Dino berperan atas pencapaian Torino yang pada musim tersebut finis di peringkat lima klasemen akhir dan lolos ke Piala UEFA (kini Liga Europa). Dari 25 kesempatan merumput, Dino ikut menyumbangkan dua buah gol.

Performa brilian ini pula yang lantas memikat klub sekota yang juga rival Torino, Juventus. I Bianconeri secara mengejutkan berani menebus Dino dengan nominal 10 juta lira (mata uang Italia pada saat itu). Sayang, latar belakang Dino yang merupakan produk Torino membuat keputusan tersebut justru dicaci oleh para Juventini.

Sebuah keputusan tak kalah mengejutkan pun dieksekusi oleh manajemen I Bianconeri jelang bergulirnya Serie A musim 1991/1992. Alih-alih memasukkan Dino sebagai salah satu pemain di tim utama, Juventus malah meminjamkan sang pemain ke salah satu rival bebuyutan mereka di tanah Italia, Internazionale Milano.

Uniknya, Dino justru mendapat kepercayaan dari pelatih Inter di musim tersebut, Corrado Orrico dan Luis Suarez, untuk tampil sebagai salah satu gelandang andalan tim. Dino turun 27 kali dan mencetak 1 gol. Namun fase terpenting yang dicicipi Dino di Stadion Giuseppe Meazza adalah kesempatan menimba ilmu dari dua gelandang terbaik dunia yang dimiliki Inter pada saat itu, Nicola Berti dan Lothar Matthäus.

Musim berikutnya, Dino pun dipanggil pulang oleh Juventus. Dirinya berkompetisi dengan nama-nama seperti Antonio Conte, Roberto Galia, Giancarlo Marocchi hingga Andreas Möller, untuk mendapat satu tempat di tim utama. Menariknya, saat itu Juventus punya dua Baggio di timnya yakni Dino dan Roberto.

Meski sinisme pendukung Juventus belum juga reda terhadap Dino, dirinya berusaha tampil maksimal dan membayar kepercayaan yang diberikan Giovanni Trapattoni, pelatih I Bianconeri, setiap kali diberi kesempatan bermain. Pada musim 1992/1993, Dino memang tak berhasil mengantar Juventus menjadi kampiun liga.

Akan tetapi, Dino berperan amat krusial bagi perjalanan I Bianconeri di ajang Piala UEFA musim itu. Bermain sebanyak delapan kali, Dino yang seorang gelandang bertahan justru sanggup menceploskan lima gol. Tiga di antaranya bahkan tercipta di sepasang babak final menghadapi wakil Jerman, Borussia Dortmund. Juventus pun berhak menggondol gelar mereka yang ketiga di ajang tersebut.

Sayang, pada musim berikutnya, Dino kehilangan tempat utama di sektor tengah Juventus. Dirinya kalah bersaing dengan Conte, Galia, Marocchi dan Möller yang pada musim tersebut menjadi tulang punggung di lini tengah I Bianconeri.

Beruntung, kesempatan bermain yang sedikit kala berseragam Juventus di musim 1993/1994 tak membuat Dino kehilangan tempat di tim nasional Italia besutan Arrigo Sacchi yang berangkat ke Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat (AS). Sacchi berdalih jika timnya membutuhkan sosok dengan kemampuan membaca permainan lawan ciamik serta etos kerja tinggi seperti yang dimiliki Dino.

Benar saja, pelatih berkepala plontos itu selalu memasang Dino sebagai pemain inti di pertandingan-pertandingan yang Gli Azzurri jalani. Sialnya, perjalanan Italia tidak berlangsung mulus karena di partai pertama babak penyisihan grup, Dino dan kawan-kawan justru keok di tangan Republik Irlandia.

Beruntung, Italia segera bangkit di laga kedua tatkala bersua Norwegia. Walau sempat kesulitan di awal laga akibat kartu merah yang diperoleh Gianluca Pagliuca, Italia tetap sanggup meraih angka sempurna. Dan yang menjadi pahlawan di laga itu adalah gol semata wayang dari Dino di menit ke-69.

Berkat kemenangan itu, Italia yang di laga ketiga babak penyisihan grup hanya meraup hasil seri tetap bisa lolos ke fase gugur. Secara beruntun, Nigeria, Spanyol dan Bulgaria mereka kandaskan di babak perdelapan-final sampai semifinal. Dino sendiri kembali menyumbang sebiji gol tatkala Gli Azzurri menekuk Spanyol dengan kedudukan 2-1 di babak perempat-final.

Sayang, upaya Italia menggenggam titel juara dunianya yang keempat pupus di babak final usai ditumbangkan Brasil via adu penalti. Salah satu momen yang lekat di dalam ingatan tentu saja sepakan Roberto yang melambung tinggi ke angkasa yang menyebabkan kekalahan Italia.

Sekembalinya dari AS, Dino sempat ditawar oleh Parma agar bergabung dengan mereka. Namun Dino menolak tawaran tersebut. Juventus sendiri kabarnya ogah melepas Dino dan siap merelakan pemain muda yang kemudian sama-sama kita ketahui melegenda bersama I Bianconeri, Alessandro Del Piero. Ketika perpindahan Del Piero ke Parma nyaris terjadi, Dino tiba-tiba mengubah pikirannya dan rela dijual ke Parma dengan harga 14 juta lira.

Kepindahan Dino ke Stadion Ennio Tardini ternyata tidak salah. I Gialloblu yang saat itu diperkuat pula oleh sejumlah nama beken semisal Faustino Aspirlla, Antonio Bennarivo, Lorenzo Minotti dan Gianfranco Zola, sukses mengejutkan publik.

Di bawah asuhan Nevio Scala, Parma sanggup merengkuh trofi Piala UEFA 1994/1995 setelah menggasak Juventus di sepasang leg final. Ciamiknya, Dino juga mencetak masing-masing satu gol di dua laga tersebut sehingga Parma beroleh keunggulan agregat 2-1.

Ironisnya, I Gialloblu gagal menambah pundi-pundi trofinya di musim tersebut setelah di babak final Piala Italia, ditekuk oleh tim yang mereka bungkam di final Piala UEFA, Juventus.

Sial buat Parma, pada musim berikutnya mereka justru gagal meraih trofi lantaran hanya duduk di posisi keenam Serie A, rontok di putaran kedua Piala Italia dan tumbang dari wakil Prancis, Paris Saint-Germain (PSG) di perempat-final Piala UEFA 1995/1996. Hal itu pula yang mendorong Scala meletakkan jabatannya sebagai allenatore Parma.

Tak butuh waktu lama buat I Gialloblu untuk mendapuk Carlo Ancelotti sebagai pelatih anyarnya. Ajaibnya, di tangan Ancelotti, Dino dan kolega justru bisa nangkring di posisi dua klasemen akhir musim 1996/1997. Pencapaian tertinggi mereka sepanjang mentas di Serie A. Namun torehan apik tersebut gagal diulangi di musim berikutnya. Ancelotti yang dipinang Juventus kemudian digantikan oleh Alberto Malesani.

Dino dan kawan-kawan secara eksepsional mampu menghadiahi Parma dengan tiga buah trofi di musim pertama Malesani. Tiga silverware itu didapat di final Piala Italia (unggul agresivitas gol di kandang lawan, 3-3, dari Fiorentina),  Piala UEFA (menang 3-0 atas Olympique Marseille) dan Piala Super Italia (menang 2-1 dari AC Milan).

Dino lantas bertahan semusim lagi di Parma sebelum akhirnya menyeberang ke Lazio di awal musim 2000/2001. Sayang, kariernya di Stadion Olimpico hanya berlangsung singkat dan kurang sukses. Kondisi itu juga yang kemudian membuat Dino bersedia mencicipi kompetisi Liga Primer Inggris dalam tempo singkat bareng Blackburn Rovers di musim 2003/2004.

Bareng The Rovers, kesempatan main yang diidam-idamkan Dino juga tak didapatkannya. Alhasil, ia pun memilih kembali ke Italia guna dipinjamkan lagi ke Ancona. Karier profesional Dino akhirnya disudahi bersama klub yang mentas di Serie B, Triestina pada musim 2005/2006.

Di Italia, dari 60 juta penduduk, hanya sekitar dua ribu orang yang punya nama Baggio. Namanya tentu saja kalah pamor dari Roberto, namun bagaimanapun juga, Dino adalah salah satu Baggio terbaik yang pernah lahir dari negeri berbentuk kaki tersebut.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *