Totalitas, Loyalitas, dan Royalitas dalam Fanatisme Terhadap Sepak Bola

Ayosport.com – Pernahkah kita menyadari, bahwa sepak bola menyimpan teka-teki yang cukup rumit? Bagaimana sepak bola dapat bertransformasi dari olahraga sederhana menjadi olahraga yang megah dan bertabur pundi-pundi uang di setiap laganya?

Para awam mendefinisikan sepak bola sebagai olahraga yang dimainkan dengan mudah dan sederhana, sesederhana oper, tendang, dan mencetak gol. Juga memahami dengan mudah tim yang paling banyak menang adalah yang akan mendapatkan gelar juara.

Namun bagi para penikmatnya, sepak bola tentu berbicara jauh lebih banyak daripada itu. Sepak bola bukan sekadar hiburan, tetapi mengandung banyak sekali arti dari berbagai gagasan duniawi, ia juga berperan penting dalam mengakomodasi kebahagiaan masyarakat. Sepak bola adalah rumah dari berbagai keluh kesah.

Mungkin Anda familiar dengan kalimat “Football is my religion” yang sekilas tampak bernada provokatif bagi sebagian orang, tapi jika kita menelaah lagi maka kita akan memahami sesuatu.

Saya senang menganalogikan sepak bola sebagai “miniatur konkret kehidupan manusia”, karena di dalamnya tercampur banyak sekali komponen kehidupan pada umumnya. Rumusan tentang penghilangan sekat etnis, suku, dan agama nyatanya hanya berubah dalam cara kerjanya saja.

Selebihnya, hal-hal tersebut melebur bersama klub kebanggaan dan merepresentasi harga diri masing-masing pendukungnya. Tak aneh jika di negara dengan penduduk yang fanatik sepak bola, sering terjadi konflik semata untuk mempertaruhkan “harga diri” mereka.

Tak hanya itu, sepak bola juga mengandung nilai-nilai ideologis dan politik yang mana sering kali disuguhkan di atas bangku tribun. Semuanya bercampur lebur jadi sebuah identitas, menjelma budaya, melahirkan sensasi, dan  membentuk satu nama, fanatisme.

Fanatisme lahir sebagai bentuk ekspresi hasil dari kawin silang antara cinta dan rasa bangga. Bentuk ekspresi itu berangsur-angsur berubah menjadi sebuah keyakinan yang dibawa oleh masing-masing penganutnya dalam setiap laga kandang maupun tandang.

Keyakinan itulah yang diturunkan dari generasi ke generasi dengan pola yang relatif sama. Fanatisme menjadi ciri bahwa sepak bola bukan perihal menang-kalah, tapi tentang nafkah, pertaruhan harga diri, bahkan hidup-mati.

Efeknya bukan hanya berimbas pada afeksi, bahkan sampai tingkah laku, keinginan lagi dan lagi, sepak bola telah menjadi candu.

Rasa candu itulah yang telah menutup nalar sebagian “penganut” sepakbola dalam berperilaku. Mereka akan mencari cara apa pun demi memenuhi candu tersebut, dan bertindak kasar ketika ada pihak yang berusaha untuk “mensterilkan” mereka dari rasa candu itu.

Ada berapa banyak kerusuhan yang terjadi akibat laga yang dibatalkan? Atau soal larangan suporter tamu untuk datang ke markas lawan? Fanatisme telah mengubah pola kebiasaan klub yang mereka bela, seolah kekuasaan tertinggi suatu klub ada pada pendukungnya.

Hal itu terlihat dari banyaknya kerusuhan yang terjadi saat klub kebanggaan kalah, dicurangi wasit, dizalimi federasi, dan berbagai hal lain yang menggambarkan fanatisme menjadi bekal ideologi suporter dalam menamengi klub kebanggaannya.

Lucunya, rasa bangga yang berlebihan itu justru membuat sepak bola semakin digandrungi oleh banyak orang. Mereka tak lagi memandang sepak bola sebagai sebuah olahraga, tapi sebagai kebudayaan warisan entah dari orang tua atau sekadar representatif sebuah kota.

Anggapannya, membela sebuah klub sepak bola yang mewakili suatu kota/negara berarti telah membela seisi kota/negara tersebut. Maka tak aneh jika banyak ditemui konflik dua pendukung klub sepak bola justru terlihat sebagai konflik rasial, ideologi, juga politik.

Rupanya hal-hal itu disadari pula oleh kaum oportunis. Baginya, sepak bola bukan hanya olahraga, bukan juga produk kebudayaan, melainkan ladang bisnis yang hasilkan jutaan lembar uang. Sebelumnya, mari kita ingat soal drama saling klaim antara bangsa Timur dan Barat tentang siapakah penemu pertama sepak bola?

Hari Wahyudi dalam bukunya yang berjudul The Land of Hooligans mengatakan bahwasanya Inggris dan Eropa pada umumnya, sesungguhnya hanya mengembangkan olahraga ini dari apa yang sudah ditemukan oleh orang-orang Asia Tengah.

Bangsa barat berhasil memodifikasi sepak bola menjadi sebuah permainan yang ramah bagi semua kalangan lewat peraturan-peraturan yang dibuatnya. Namun di sisi lain, peraturan tersebut juga menghadirkan  drama baru; bahwa sepak bola adalah permainan yang rawan praktik kapitalisme.

Saya menyarankan Anda untuk menonton serial The English Game untuk memberi gambaran praktik kapitalisme sederhana dalam permainan sepak bola. Seiring berkembangnya zaman, dan ketika uang menjadi kebutuhan krusial semua orang. Sepak bola pun tak dapat dipisahkan dari praktik kapitalisme.

Dengan gemerlapnya setiap pertandingan, mewahnya sebuah kompetisi, dan banyaknya pemain yang namanya serupa selebriti, sepak bola telah menjadi magnet bagi kapitalisme dalam mengembangkan praktiknya ke semua penjuru hidup. Roman Abramovich, Sheikh Mansour, atau Erick Thohir adalah nama-nama yang sedang atau pernah menaruh saham di klub sepak bola.

Pertanyaannya, kenapa harus sepak bola? Seberapa besar mereka mencintai dan memahami sepak bola sebagai olahraga dan sebagai tanah subur yang cocok ditanami benih-benih uang? Kalimat “Football: created by the poor, stolen by the rich”, cocok menggambarkan fenomena tersebut.

Faktanya, kapitalisme telah beroperasi melegitimasi sepak bola lewat drama pengaturan skor, seluk beluk mafia, dan berbagai macam hal lain.

Mengapa kebanyakan nama besar memilih untuk menanam saham di klub yang besar? Seolah-olah semakin besar suatu klub maka semakin besar juga peluangnya menjuarai kompetisi. Sekilas hal tersebut tidak adil dan menciderai fair play yang selalu dicita-citakan elit federasi.

Praktik kapitalisme itu menjalar ke berbagai negara dengan basis suporter sepak bola yang tinggi, hingga menjadikan sepak bola sebagai simbol kapitalisme global. Kapitalisme berperan dalam komersialisasi permainan sepak bola.

Sadar atau tidak, tetes keringat Cristiano Ronaldo dapat menutupi biaya renovasi sebuah rumah di Indonesia, atau tiap laju langkah Lionel Messi sama dengan tebaran uang yang sedang menari-nari unjuk diri di lapangan hijau.

Hal lain dapat ditemui dengan beralihnya fungsi suporter sebagai pendukung menjadi konsumen suatu klub sepak bola. Kapitalisme telah merubah tatanan dan kebiasaan demi mencapai tujuan sepak bola modern yang “katanya” menjanjikan.

Segala intrik dan problematika yang ada, membawa kita pada permasalahan baru; apakah fanatisme yang melahirkan kapitalisasi sepakbola? Atau justru sebaliknya, kapitalisme yang melahirkan fanatisme?

Teka-teki inilah yang seharusnya menampar keras para awam yang menganggap sepak bola sebagai permainan sederhana. Bagaimana pun juga, sepak bola tidaklah pernah sesederhana kelihatannya, ia mengandung berbagai komponen kehidupan, berperan dalam keberlangsungan dunia.

Sepak bola adalah rumah dari segala keluh kesah, ia menjadi tempat bercumbu antara sedih dan bahagia, semua karena sepak bola adalah miniatur konkret dari kehidupan kita.

 


Posted

in

,

by

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *