Kalau Pemain Sepak Bola Pensiun, Mau Jadi Apa?

Matthieu Flamini, founder of GF Biochemicals (GFB)
Matthieu Flamini, founder of GF Biochemicals (GFB)

Ayosport.com – Beruntung Indonesia masih memperingati Hari Olahraga Nasional (Haornas) tiap 9 September. Haornas menjadi refleksi olahraga Indonesia dan tentu saja para atlet yang mengharumkan bangsa. Sayangnya, menjadi atlet bukanlah sebuah profesi yang didamba, karena tidak sedikit dari mereka yang terpuruk di hari tua.

Berbicara mengenai olahraga di Indonesia khususnya secara profesional tidak bisa jauh-jauh dari berbagai masalah yang melanda. Masalah-masalah seperti seretnya prestasi, carut marutnya manajemen kepengurusan, hingga masalah keuangan atlet seperti sudah sulit untuk dihilangkan dari dunia olahraga Indonesia, termasuk sepakbola.

Read More

Sepak bola merupakan salah satu olahraga terfavorit di Indonesia. Sayangnya hal ini tidak menjamin sepakbola untuk menjadi cabang olahraga tersukses di Indonesia. Kegagalan-kegagalan untuk meraih prestasi telah menjadi hal yang lumrah bagi para penikmat sepak bola Indonesia. Ditambah dengan sengkarutnya kompetisi dan kepengurusan hingga masalah pembekuan organisasi maka sepertinya sudah tidak ada lagi masalah lain yang tidak dicicipi oleh persepakbolaan Indonesia.

Namun, ada salah satu masalah sepak bola yang memberikan dampak langsung kepada para pelakunya, khususnya para pemain, yaitu masalah keuangan. Masalah keuangan yang terjadi di sepak bola Indonesia bisa dibilang cukup kompleks. Namun, muaranya tetap satu, yaitu kerugian yang diderita oleh para pemain.

Masih tidak bisa dilupakan bagaimana kejadian pemain sepak bola meninggal dunia akibat tidak memiliki biaya yang cukup untuk mengobati penyakitnya. Atau bagaimana seorang Alfin Tuasalamony yang sampai kebingungan untuk mencari biaya demi pengobatan kakinya yang patah. Aneh rasanya jika para pemain ini sampai kesulitan keuangan mengingat secara kontrak, harga dan gaji mereka cukup tinggi dan industri sepak bola nasional pun sedang bertumbuh.

Namun nyatanya kesulitan keuangan masih menjadi momok tersendiri bagi para pesepakbola di Indonesia. Apalagi pembekuan PSSI oleh Kemenpora saat kompetisi masih berjalan yang membuat para pemain tak mendapatkan pemasukan. Kesulitan keuangan ini pada akhirnya akan membuat nasib pemain di hari tua mereka menjadi semakin tidak terjamin.

Lalu, apa yang harus dilakukan untuk menghindari masalah tersebut? Kuncinya hanya satu, membuat perencanaan hari tua.

Dalam dunia manajemen SDM, perencanaan hari tua atau yang biasa disebut dengan pension plan merupakan salah satu hal penting yang harus dilakukan. Bagi seorang pekerja, perencanaan hari tua juga perlu diperhatikan karena hal ini mampu mempengaruhi masa depan mereka. Untungnya, pemerintah dan hampir seluruh perusahaan yang ada di Indonesia telah menyadari pentingnya perencanaan hari tua tenaga kerja Indonesia.

Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan berbagai peraturan yang mewajibkan perusahaan-perusahaan di Indonesia untuk melaksanakan program yang membantu perencanaan hari tua karyawaannya. Salah satu hal yang krusial adalah jaminan hari tua atau yang pada saat ini berbentuk BPJS Ketenagakerjaan.

Program ini diharapkan dapat membantu tenaga kerja Indonesia dalam perencanaan hari tua mereka. Meski telah mendapatkan bantuan dari pemerintah dan perusahaan, tetap penting bagi seorang tenaga kerja untuk menyusun rencana hari tua mereka untuk memastikan bahwa di masa depan mendatang mereka tidak akan mengalami kesulitan keuangan bahkan hingga bangkrut.

Dalam Undang-Undang Ketenagakerjaan disebutkan bahwa pekerja adalah setiap orang yang bekerja dengan menerima upah atau imbalan dalam bentuk lain. Setiap pekerja ini memiliki hak untuk mendapatkan jaminan sosial tenaga kerja, salah satunya adalah jaminan hari tua atau pensiun. Jaminan hari tua ini dapat diberikan sepenuhnya oleh perusahaan, atau dari perusahaan dan pekerja, maupun sepenuhnya diambil dari pekerja.

Lalu bagaimana dengan pesepakbola?

Bila mengacu pada pengertian pekerja di UU Ketenagakerjaan maka pemain sepakbola merupakan seorang pekerja dan berhak untuk mendapatkan jaminan sosial tenaga kerja, khususnya jaminan hari tua. Apalagi hampir seluruh klub sepakbola telah berbadan hukum sehingga seharusnya klub-klub sepakbola tersebut memberikan bantuan jaminan hari tua kepada para pemain sepakbolanya.

Namun, karena mungkin atlet memiliki sifat tersendiri dalam dunia kerja maka pemerintah telah mengaturnya dalam undang-undang yang lain, yaitu Undang-Undang Sistem Keolahragaan Nasional. Dalam undang-undang tersebut telah disebutkan bahwa setiap olahragawan profesional (atlet) memiliki hak untuk mendapatkan pendapatan yang layak, sayangnya dalam undang-undang tersebut tidak disebutkan mekanisme jaminan hari tua atlet.

Ketiadaan peraturan mengenai jaminan hari tua ini tentu amat disayangkan dan mungkin ini menjadi salah satu sebab mengapa atlet di Indonesia, seperti pemain sepakbola, tidak mendapatkan jaminan hari tua sama sekali, baik dari pihak klub maupun dari pengurus PSSI.

Ketiadaan peraturan mengenai mekanisme jaminan hari tua bagi atlet termasuk pemain sepakbola membuat mereka sulit untuk meminta bantuan dari pihak klub maupun asosiasi untuk membantu mereka dalam perencanaan jaminan hari tua. Meski pemerintah Indonesia juga memiliki UU Ketenagakerjaan yang di dalamnya mengatur mengenai jaminan hari tua, namun karena mungkin sifat ketenagakerjaan pemain sepakbola berbeda dengan tenaga kerja lainnya, maka sulit untuk mengacu pada undang-undang tersebut.

Dalam hal ini, pemerintah harus segera merevisi UU Sistem Keolahragaan Nasional tersebut. Sudah terlalu banyak atlet yang merasakan kerugian akibat tidak adanya peraturan mengenai jaminan hari tua dan ini tidak hanya dialami oleh pemain sepakbola saja. Penambahan peraturan mengenai jaminan hari tua harus dilakukan agar tidak terjadi lagi atlet yang kesulitan keuangan setelah mereka tidak aktif lagi atau pensiun.

Bagi pemain sepakbola sendiri, mereka juga tidak bisa hanya menunggu pemerintah atau pihak lainnya untuk melakukan perubahan. Tidak jarang ditemukan pemain sepakbola yang saat aktif di lapangan melakukan penghamburan uang sehingga saat terjadi masalah seperti gaji yang terlambat atau bahkan berhentinya kompetisi maka mereka akan terkena efek langsung dari tidak adanya pendapatan dan pada akhirnya mereka bisa mengalami kebangkrutan.

Pemain sepakbola harus mulai menyusun perencanaan mereka demi kelangsungan hari tua mereka nanti. Langkah pertama yang dapat ditempuh adalah dengan menetukan setelah mereka pensiun, mereka ingin melakukan kegiatan apa. Apakah mereka ingin menjadi pelatih sepakbola meski tantangan dan resikonya hampir sama dengan saat mereka menjadi pemain? Atau mereka ingin beralih menjadi PNS seperti yang dilakukan oleh Ilham Jaya Kesuma atau bahkan pegawai swasta? Atau mungkin juga mereka ingin menjadi wirausahawan seperti yang dilakukan oleh Tony Sucipto?

Langkah berikutnya adalah dengan sesegera mungkin menyisihkan pendapatan mereka untuk masa depan mereka. Hal ini dapat dilakukan dengan cara yang paling sederhana seperti dengan menabung atau dengan cara yang lebih kompleks seperti dengan berinvestasi. Namun intinya adalah hal ini dilakukan untuk berjaga-jaga apabila masalah-masalah seperti gaji yang terlambat atau bahkan kompetisi yang berhenti terjadi, mereka masih memiliki penghasilan lain.

Langkah terakhir adalah membuat perencanaan yang detail. Jika para pemain telah tahu apa yang akan mereka lakukan setelah pensiun nanti maka mereka harus segera menyusun perencanaan untuk mencapainya. Jika pemain setelah pensiun ingin menjadi pelatih maka akan lebih baik bila mereka mulai mengikuti kursus-kursus kepelatihan untuk segera mendapatkan lisensi. Pun demikian bila ternyata mereka ingin menjadi PNS atau bahkan wirausahawan sekalipun mereka juga harus segera menyusun perencanaan yang jelas dan detail.

Langkah-langkah itu memang belum tentu menjamin bahwa di hari tua mereka nanti, mereka tidak akan mengalami kesulitan finansial. Namun, bukankah lebih baik bila sedia payung sebelum hujan kan?

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.