Ambisi Mubazir Florentino Perez Bernama Galacticos Jilid Satu

Real Madrid 2003

Ayosport.comIndustri dan sepak bola telah lama menyatu, proyek Galacticos milik Real Madrid bisa jadi contoh sahihnya. Aliran bola di lapangan hijau disertai dengan perputaran angka uang yang fantastis berkat panasnya rivalitas dan tingginya fanatisme adalah pasangan yang serasi selama beberapa tahun ke belakang.

Adanya industrialisasi telah mengubah penampilan sepak bola dari sekadar cabang olahraga menjadi sebuah unit ekonomi yang setara dengan unit ekonomi lain. Tapi untuk menggerakkan mesin industri tersebut, kapasitas para pemilik modal di dalam klub amat menentukan.

Read More

Alhasil kerap terlihat betapa drastisnya perubahan situasi sebuah klub berkat kiprah pengolahan modal dari presiden atau pemodal klub.  Dalam hitungan dua dekade millenium ini hanya ada satu nama paling fenomenal soal ini. Dia adalah Florentino Perez, bos besar Real Madrid yang terkenal lewat ambisi proyek Galacticos-nya.Perez tercatat dua kali menjabat sebagai presiden El Real, yakni di periode pertama (2000-2006) dan periode kedua (2009-sekarang). Ekspansinya dalam jagad sepak bola dunia telah membuat Real Madrid selalu menjadi rumah bagi para mega bintang lapangan hijau.

Proyek ambisius itu dinamai Los Galacticos yang membuat Real Madrid memiliki tradisi mendatangkan penggawa dengan rekor transfer teratas.

Namun ekspektasi dan ambisi tak selamanya setara dengan pencapaian prestasi penggawa proyek Galacticos. Jika menilik pada edisi kedua proyek Galacticos (setidaknya dari 2009 sampai hengkangnya Cristiano Ronaldo), memang para Madridista masih bisa berbangga sebab empat gelar Liga Champions cukup sebanding dengan pelbagai perubahan komposisi skuad.

Namun justru di edisi pertamanya (2000-2006) sulit dimungkiri bahwa keinginan Perez yang tergambar dalam proyek Galacticos-nya boleh dikatakan gagal dan menunjukkan pencapaian yang ironis.

Sebelum Perez masuk pada medio tahun 2000, pamor Real Madrid memang sudah masyhur. Bahkan waktu itu Raul Gonzales dan kolega baru saja menjuarai Liga Champions 1999/2000. Menariknya proyek Galacticos segera digaungkan Perez sejak awal keterlibatannya di dalam klub.Dan untuk seterusnya, ia sanggup merekrut deretan pemain terbaik dunia versi FIFA seperti Luis Figo (2001), Zinedine Zidane (1998 dan 2000), Ronaldo Luiz Nazario (1997 dan 2002) serta David Beckham.

Diawali di musim 2000/2001, kala ia sukses memaksa Figo untuk membelot dari FC Barcelona dengan banderol 60 juta euro. Kepindahan tersebut sempat membuat heboh dan protes pendukung musuh. Beruntung di akhir musim El Real berhasil menggondol titel La Liga.Semusim berselang, Perez memecahkan rekor transfer termahal (75 juta euro) dengan memboyong Zinedine Zidane dari Juventus. Gol Zidane di final Liga Champions 2001/2002 akhirnya memberi gelar raja Eropa kesembilan bagi Los Merengues.

Nama yang kemudian masuk dalam skuad Real Madrid juga merupakan pesohor yang paling terang saat itu. Ronalo Luiz Nazario merapat dari Inter Milan dengan nilai 39 juta euro pasca menjuarai Piala Dunia 2002 bersama timnas Brazil.Namun kerja sama Ronaldo, Figo, Zidane, bersama dengan nama-nama yang sudah menghuni bahtera El Real seperti Raul, Roberto Carlos, dan Claude Makelele hanya mampu mempersembahkan gelar Piala Dunia Antar Klub 2002 dan satu gelar La Liga pada 2002/2003.

Jelang musim keempatnya, Perez kembali mendatangkan pembelian teranyar. Pilihannya tak main-main, David Beckham, si megabintang dari Manchester United. Kapten Timnas Inggris saat itu berlabuh dengan mahar 35 juta euro setelah sempat beredar rumor ketidakharmonisannya dengan manajer Manchester United, Sir Alex Ferguson.

Ketika itu hadirnya Beckham tampaknya membuat Los Galacticos bentukan Perez sudah komplit dan sangat digdaya. Tetapi siapa sangka, justru pada titik ini antiklimaks prestasi terjadi. Kilau bintang-bintang tersebut justru mulai meredup.

Seiring dengan pergantian pelatih dari Vicente Del Bosque kepada Carlos Quieiroz, Los Galacticos hanya sempat merengkuh Piala Super Spanyol 2003 sebelum akhirnya melempem dan selalu gigit jari selama tiga musim beruntun. Bahkan, pada musim 2003/2004 Real Madrid harus bercokol di urutan empat klasemen La Liga.

Bergabungnya pilar megabintang baru seperti Michael Owen (dari Liverpool), Robinho (Santos), dan Antonio Cassano (AS Roma) tidak mengubah kebuntuan. Madrid terus tertatih. Di kancah Eropa, selama tiga musim terakhir (2003-2006), mereka gagal mencapai semi-final dan bahkan dua kali tumbang lebih dini di perdelapan final (2004/2005 dan 2005/2006).

Lebih menyakitkan lagi, pada masa kelam tersebut, dewi fortuna seolah berpihak pada rival abadi mereka, FC Barcelona. Di bawah determinasi jogo bonito-nya Ronaldinho, Blaugrana sukses mengumpulkan dua trofi La Liga (2004/2005 dan 2005/2006) dan satu mahkota Liga Champions (2005/2006).

Fakta antiklimaks inilah yang membuat Perez kelimpungan dengan proyek Los Galacticos perdananya, sehingga ia akhirnya memutuskan untuk mundur dari jabatannya pada 28 Februari 2006. Ditinjau secara baik-baik, sebetulnya ada satu faktor penting yang menyebabkan kegagalan proyek Galacticos edisi pertama. Faktor tersebut terletak pada pergantian pelatih. Perez terbukti lebih sering gagal dalam menyerahkan Real Madrid pada arsitek yang tepat untuk mempersatukan semua bintang yang ada pada timnya.

Pada fase awal, El Real masih sempat mendulang prestasi sebab memang ditangani oleh etrenador yang cakap, Vicente Del Bosque. Tetapi selepas Bosque, Perez justru mempercayakan armadanya pada Carlos Queiroz. Hanya punya reputasi tertinggi sebagai asisten manajer Sir Alex Ferguson di Manchester United, akhirnya Queiroz pun gagal total sebelum diberhentikan pada akhir musim 2003/2004.

Selanjutnya menjadi hal yang miris dalam sejarah kepelatihan Real Madrid. Hanya dalam dua musim (2004-2006), Perez bergonta-ganti empat pelatih. Jose Antonio Camacho dilantik mengganti Queiroz pada 1 Juni 2004, namun mantan pelatih timnas Spanyol tersebut hanya berkantor di Bernabeu selama 120 hari.

Posisi krusial tersebut hanya diisi dengan seorang caretaker bernama Mariano Garcia Remon. Prestasi Los Merengues tak kunjung membaik sehingga dalam waktu singkat pelatih asal Brazil, Vanderlei Luxemburgo segera ditunjuk pada akhir 2004.

Di bawah besutan Luxemburgo, peforma Los Galacticos toh tetap sama saja dan lagi-lagi Perez kesulitan mencari pelatih handal. Ia hanya menaikkan pangkat Juan Ramon Lopez Caro dari Real Madrid Castilla untuk mengganti Luxemburgo sampai El Real betul-betul hanya menjadi pecundang hingga akhir masa jabatan Perez.

Pasca kemunduran Perez, Ramon Calderon yang didaulat sebagai presiden baru pada awal musim 2006/2007 mendatangkan pelatih kawakan Fabio Capello dari Juventus. Dan rupanya inilah yang membuat keadaan berubah.Peran Capello sangat dominan terhadap keberhasilan Madrid mengakhiri paceklik dengan gelar La Liga pada musim itu.Perhatian terhadap posisi pelatih nampaknya menjadi bahan evaluasi penting bagi seorang Florentino Perez sehingga hasil yang diperolehnya pada proyek Galacticos keduanya (sejak 2009) sangat berbeda.

Setelah Manuel Pelegrini gagal total pada musim pertama periode ini, tak tanggung-tanggung Perez langsung mendatangkan The Special One, Jose Mourinho, yang kemudian mampu mengangkat peforma Real Madrid ke jalur juara.Selepas Mourinho, eksistensi Los Galacticos tidak terlepas dari nama-nama pelatih legendaris dan handal semisal Carlo Ancelotti hingga Zinedine Zidane sekarang ini. Karenanya, Los Galacticos saat ini tidak mengalami grafis antiklimaks seperti terjadi pada edisi perdana.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.