Claudio Gentile, Antagonis yang Sempurna

Claudio Gentile

Ayosport.comSepakbola tak ayal banyak menyita perhatian banyak orang karena satu-dua pemain yang bermain cantik atau indah. Di masa lampau, Brazil punya sosok Garrincha yang meskipun banyak orang tahu ia punya kekurangan fisik dengan salah satu kakinya yang lebih panjang namun dalam hal olah bola dan kelincahan mengelabui lawan ia diakui sebagai salah satu yang terbaik. Argentina punya si tuhan kecil Diego Maradona yang mampu menyita perhatian dengan dribel-dribel yang memuka dan Perancis punya Zinedine Zidane.

Disamping sosok-sosok pesebakbola yang begitu memperlihatkan keindahan, adapula sosok “iblis” yang berkaratker sebaliknya. Lebih condong ke permainan yang cukup menonojolkan keras, yang mana banyak penikmat sepabola mengalama “sakit mata” kala melihatnya. Bahkan “ibls” ini banyak disebut-sebut sebagai “anti-football”

Claudio Gentile: Bek Italia ini menunjukan eksitensinya sebagai pemain belakang yang tangguh dan tidak kenal kompromi. Tapi tidak ada yang lembut tentang pria yang lahir di Libya dan dibesarkan di Italia dengan gaya Catenaccio dan fisik Italia tradisional. “Pada waktu-waktu tertentu anda harus tahu bagaimana melakukan pelanggaran ”begitu kata orang Italia itu

Awal karir Gentile, ia hanya bermain untuk Arona dan Varese di Seri-B Liga Italia. Musim 1973/74, Juventus yang kala itu dilatih oleh Cestmir Vycpalek merekrutnya untuk memperkuat lini belakang Juventus kala itu. Bersama Dino Zoff yang berada di klub setelah pindah dari Napoli di tahun 1972 dan berusia 30 tahun, Gentile muda membentuk setengah dari apa yang terbukti menjadi salah satu pertahanan terbesar Serie A, juga seperti di kancah internasional untuk Italia. Setahun setelah Gentile didatangkan untuk Juventus, bek lain tiba, kali ini dari Atalanta. Gaetano Scirea yang merupakan antitesis dari Gentile. Dikenal karena permainannya anggun dan sportif. Scirea juga mahir dalam membaca permainan dan memiliki teknik yang sangat baik dengan bola yang dikuasainhya.

Pasangan defensif yang kontras itu bersama dengan Zoff yang berpengalaman sebagai garis pertahanan terakhir, membuat Juventus mengklaim gelar 1974/75. Gentile bermain 29 dari 30 pertandingan liga dan merupakan bagian penting dari pertahanan Bianconeri yang hanya kebobolan tiga gol di kandang di liga sepanjang musim.

Pada bulan Juli 1976 Giovanni Trapattoni mengambil alih pemerintahan di Juventus dari Parola. Itu adalah awal dari periode sukses berkelanjutan untuk manajer, klub, pertahanan Juventus dan Gentile. Kedatangan bek kiri Antonio Cabrini, seperti Scirea juga dari Atalanta, adalah puzzle pelengkap terakhir dalam pertahanan Trapattoni. Zoff, Gentile, Scirea, dan Cabrini akan membentuk landasan pertahanan Juve selama tujuh tahun ke depan. Keempat pemain juga akan menjadi starter pilihan pertama untuk tim nasional dari 1975 hingga 1983, bersaing di Piala Dunia 1978 dan 1982 serta Euro 80.

Trapattoni merevolusi Juventus dengan kecerdasan taktis yang cerdik serta mengadaptasi gaya catenaccio, menggunakan zona mista – kombinasi dari man to man marking dan zona marking- untuk efek yang besar. Itu adalah taktik yang membuat pertahananan Juve berkembang, khususnya bagi Gentile, yang akan mengangkat seni bertahan man-to-man marking ke permukaan sepakbola dunia.

Gentile hidup di bawah inovasi taktis Trapattoni, terutama ketika ia mulai menjalankan man-to-man marking. Taktik ini merupaka cara untuk melumpuhkan atau membatalkan kreatifitas serangan lawan di lapangan, ketika dimainkan dengan tepat dan dalam hukum permainan, itu adalah taktik yang sangat sulit untuk diterapkan. Ini membutuhkan konsentrasi konstan selama 90 menit serta memiliki kemampuan fisik untuk menyamai lawan Anda.

Untuk menjadi man-marking yang handal cukup menguras fisik dan mental dan sangat sedikit pemain dalam sejarah telah mampu memainkan peran secara konsisten. Bakat defensif ‘kreatif’’ Gentile akan begitu mencolok ketika tim lawan memiliki fantasista; tipe pemain yang punya visi bagus, bergerak liar dilapangan, dan punya sihir dalam mengolah bola. 

Seperti halnya manajer di klubnya, Gentile menemukan peran yang sama di bos internasionalnya. Ia membela Azzurri dalam 71 pertandingan internasional resmi, 69 dari mereka di bawah bimbingan Enzo Bearzot..Seperti Trapattoni, Bearzot sangat cerdik dan teliti dalam perencanaannya, mempelajari lawan selama berhari-hari sebelum pertandingan. Bearzot juga seorang pendukung garis keras dari zona mista catenaccio. Permainan Gentile bak simbiosi mutualisme dengan Bearzot.

Pada tahun 1977 tepatnya pada babak group kualifikasi Piala Dunia,Inggris berhadapan dengan Itali. Peter Barnes dan Steve Coppell berduet untuk menembus “kokohnya: pertahanan Gentile,dkk untuk pertama kalinya dalam karir mereka. Inggris memenangkan pertandingan 2-0, tetapi kutipan yang keluar dari permainan cukup untuk membuat mata Anda berair. Steve Coppell mengenang, “Gentile benar-benar menaruh awas pada saya malam itu. Dia bisa saja meludahi wajah Anda dan memanggil Anda ‘seekor babi Inggris’.

Dia mendapat kartu kuning di babak pertama karena menarik baju saya dan melemparkan saya di tanah, kemudian bola berguling sekitar lima meter dari kepala saya, lalu dia datang ke bola dan mengarahkannya tepat di bagian belakang kepala saya karena saya tergeletak di lantai. Itu jenis permainannya. ”

Inggris gagal lolos ke putaran final di Argentina, dan Azzurri akan lolos ke Amerika Selatan setahun kemudian. Selama Piala Dunia 1978, Italia mampu menempati urutan keempat setelah kalah 2-1 dari Belanda di babak group ke-2 dan Brasil di pertandingan ketiga playoff. Selama turnamen, Azzurri menggunakan seluruh Juventus kembali empat dari Gentile, Cabrini, Scirea dan Antonello Cuccureddu, semua di depan pasangan tim domestik mereka Dino Zoff.

Kejuaraan Eropa 1980 diadakan di tanah air Gentile dan melihat mereka berempat dari Juventus hanya kebobolan satu gol di seluruh turnamen. Sayangnya dua hasil imbang 0-0 dan kemenangan 1-0 melawan Inggris tidak cukup untuk maju ke final karena hanya berada di ururtan ke-2 group dan harus kembali dengan pertandingan playoff tempat ketiga. Italia kebobolan satu-satunya gol mereka dalam kompetisi melawan Cekoslowakia saat bermain imbang 1-1, dan akhirnya kalah adu penalti untuk menyelesaikan turnamen kandang mereka di tempat keempat.

Piala Dunia 1982 di Spanyol dinilai akan menjadi festival sepakbola menyerang, dengan bisa dibilang tiga playmaker terbesar di dunia pada saat itu semua hadirin. Diego Maradona, Zico, dan Michel Platini semuanya mengenakan nomor punggung “keramat” 10. Seperti tradisi baru-baru ini untuk Azzurri di turnamen-turnamen besar, tim Italia turun ke awal yang lamban dan tidak menarik. Pertandingan dalam fase group pertama mereka hanya meraih hasil imbang 0-0 dengan Polandia dan 1-1 dengan Peru dan Kamerun,namun Itali berhak lolos ke fase group selanjutnya. Italia masuk ke dalam ‘Grup Neraka’ bersama Argentina dan Brasil. Format grup putaran kedua berarti hanya satu tim yang akan maju ke semi final. Pejabat pers dan supporter Italia tidak yakin akan langkah Italia di Piala Dunia.

Itali harus berhadapan dengan adalah juara bertahan Argentina dan di barisan depannya ada superstar muda baru sepakbola dunia, Maradona. Gentile ingat bagaimana Bearzot berbicara kepadanya tentang tugas menandai nomor 10 Argentina: “Bearzot sedikit kebingungan, dia tidak yakin siapa yang harus dia pilih untuk menandai Maradona. Saya seharusnya menjaga striker bukan gelandang”. Gentile sedang menonton TV pada suatu malam, dan Bearzot datang dan bertanya kepadanya, “apa yang akan kau lakukan untuk menjaga Maradona?” Itu bukanlah bagi saya, percayaalah” ungkap Gentile.

Segera setelah Bearzot pergi meninggalkan Gentile, ia langsung mengambil beberapa kaset video dan menontonnya selama dua hari. “Saya ingin mempelajari Maradona dan potensinya, dan bagaimana saya bisa membatasi ruang geraknya. Saya mungkin tak bisa mengehentikannya, tetapi saya bisa membatasinya. “

Pada pertandangaan Itali dan Argentina itu menjadi salah satu cerita rakyat untuk Piala Dunia. Gentile secara brutal dan brilian mengehntikan Maradona, ia tidak bisa menghilangkan perhatian tanpa henti pada Maradona. Sebagaian banyak penonton mengasumsikan orang Italia itu tampak sebagai ancaman yang menakutkan dan gelap. Perawakannya dengan gaya rambut hitam tebal dan kumis yang lebat seakan memberi kesan penampilan penjahat pantomim yang begitu kacau. Maradona dilanggar 11 kali di babak pertama oleh Gentile sendiri.

Gentile melakukan segala cara untuk mengejar Maradona. Tekel, tendangan, menarik baju, menghentak, menyiku dan bahkan merangul dengan lengan bagian bawah ke tenggorokan. Gentile hanya mengantongi satu kartu kuning dari aksi-aksi “jahatnya” itu pada saat melawan Argentina.

Ketika ditanya tentang “pelajaran” yang ia berikan pada Maradona yang masih berusia 21tahun, Gentile menjawab dengan keras: “Sepak bola bukan untuk balerina. Setiap kali saya mencoba untuk merebut bola darinya, saya merasa pergelangan kaki saya akan patah. Saya hampir tidak bisa bergerak atau berputar. Gentile berhasil menjalankan catatan singkat manajernya untuk kemudian disempurnakan dengan kemenangan 2-1 atas Argentina.

Lawan berat Itali lainnya sudah menunggu, Brazil. Azzuri arus memenangkan pertandingan untuk mengamankan perkembangan ke semifinal. Sekali lagi, Bearzot telah merumuskan rencana untuk mengalahkan lawannya. Gentile mengenang: “Bearzot tidak memberi tahu bahwa saya akan menjagai Zico dalam dua hari jeda pertandingan lawan Brasil. Untungnya saya ingat gaya bermain Zico, dan saya melakukan apa yang harus saya lakukan. Untungnya semua hal berjalan dengan mulus sesuai dengan cara saya. “

Gentile tidak kenal lelah dalam usahanya mengejar pemain Brasil nomor 10 itu. Caranya memberi perhatian kepada orang nomor 10 ialah dengan secara kasar merobek baju dari tubuh Zico ketika dia mencoba untuk mencoba masuk ke dalam area penalti Italia. Zico membuat protes yang sia-sia dengan wasit ketika dia menunjukkan pakaian resmi bajunya yang robek, yang memaparkan setengah dari tubuhnya. Namun pria di tengah hanya melambaikan protes. Lagi-lagi lunak – atau terintimidasi – wasit hanya menunjukkan kartu kuning satu Italia selama pertandingan.

Zico memang lebih tua dan lebih berpengalaman daripada Maradona dan dia mencoba membuat Gentile keluar dari posisi dengan menjatuhkan lebih dalam ke lini tengah. Zico lolos dari perhatiannya hanya sekali di seluruh pertandingan.

Hasilnya adalah back-heel cepat oleh Zico, yang terbentur kaki Gentile, kemudian bola dioper ke Socrates dan kapten Brasil mencetak gol. Ini akan menjadi satu-satunya waktu dalam 90 menit sepak bola bagi Zico hanya secuil untuk diberitakan. Sebuah hat-trick Paolo Rossi akhirnya terjadi untuk Brasil saat Azzurri memenangkan pertandingan 3-2 yang menegangkan. 

Claudio Gentile telah membatalkan dua pemain terbaik di dunia selama dua pertandingan berturut-turut di panggung terbesar dan di level tertinggi. Orang hanya bisa membayangkan kelelahan mental dan fisik yang menjadi dua pertunjukan yang menentukan. Dalam waktu 180 menit, gaya bertahan Gentile telah terekspos ke dunia dan melihat dampaknhya.

Brasil yang flamboyan telah dikirim kembali ke Amerika Selatan dan gaya bertahan zona mista Catenaccio telah menggantikan jogo bonito di semifinal. Dua kartu kuning itu menandakan bahwa Gentile harus duduk di semi final melawan Polandia, meskipun ia tak tampil Itali berhasil menngandaskan Polandia dengan skor 2-0

Italia bertemu Jerman di final, dan Gentile kembali bermain. Kali ini adalah Pierre Littbarski yang mungil mendapatkan ‘perhatian khusus’ dari Gentile, tetapi orang Jerman tidak berada di liga yang sama dengan Zico atau Maradona. Gentile menjalankan tugasnya dengan baik untuk mengawal gelandang serang Jerman sedemikian rupa sehingga ia berhasil menjelajah lapangan dan memberi peluang yang selanjutnhya dikonversi gol pembuka Rossi di final. Di akhir pertandingan, Itali akhinrya keluar sebagai kampiun setelah menang dengan skor 3-1.

Gentile tidak hanya mencapai dominasi di dalam negeri dengan Juventus, tapi ia sudah mencapai dominasi dalam skala global, semua dari awal yang tidak meyakinkan. Italia mencetak 10 gol dalam empat pertandingan terakhir mereka di Piala Dunia 1982 dan bertanding dengan mengandanskan favorit juara, pemegang gelar turnamen sebelumnya dan juara Eropa yang berkuasa. Kemampuan Gentile untuk meredam dan mendominasi lawan telah memungkinkan tim Italia untuk tumbuh dalam gaya bermain dengan kebebasan yang jarang dilihat.

Gentile tidak hanya mencapai dominasi di dalam negeri dengan Juventus, tapi ia sudah mencapai dominasi dalam skala global, semua dari awal yang tidak meyakinkan. Italia mencetak 10 gol dalam empat pertandingan terakhir mereka di Piala Dunia 1982 dan bertanding dengan mengandanskan favorit juara, pemegang gelar turnamen sebelumnya dan juara Eropa yang berkuasa. Kemampuan Gentile untuk meredam dan mendominasi lawan telah memungkinkan tim Italia untuk tumbuh dalam gaya bermain dengan kebebasan yang jarang dilihat.

Terlalu sering, nama Claudio Gentile dikaitkan dengan istilah-istilah seperti intimidasi, tanpa kompromi, tidak sportif, dan agresif. Namun dalam 71 penampilan internasional dan lebih dari 400 penampilan liga ia hanya menerima satu kartu merah. Bandingkan kata sifat tersebut dengan tingkat keberhasilan yang dicapai oleh Gentile dengan salah satu gelar individunya di Tim All-star Piala Dunia FIFA untuk tahun 1982 dan Majalah The Times memasukkannya sebagai salah satu dari 50 pesakbola besar yang sukar unuk dihadapi.

Setiap penikmat sepakbola memanglah punya sudut pandang berbeda, terutama dalam melihat gaya bermain Gentile. Ada yang mengatakan ia dalah penjahat, orang yang tak bermoral tidak pantas berada di lapangan yang sama dengan para seniman sepakbola.

Pada kenyataannya ia tak segan-segan melabeli dirinya patut memegang kendali atas lawannya menruntut dari apa yang pernah ia katakan “Karakter saya tidak mengintimidasi, itu untuk menunjukkan saya adalah bos di lapangan. Tapi mungkin dari situlah kita dapat menilik sisi lain dari seni bertahan. Mengagumi kegigihan dan disiplin yang ia mainkan, serta kemampuan bawaannya untuk secara konsisten bermain dengan konsetrasi penuh dengan taktik yang ada.

 

Claudio Gentile- Salah Satu Mimpi Indah Sepakbola Italia, dan Mimpi Buruk bagi pecinta keindahan Sepakbola.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.