Ironi Mario Jardel

Mario Jardel- Galatasaray

Ayosport.com – Piala Super Eropa tahun 2000, Real Madrid melawan Galatasaray. Mata sepakbola dunia tertuju pada satu orang. Baru dibajak sebagai pemain termahal di dunia setelah transfer kontroversial ke Real Madrid dari rival Barcelona,  Luís Figo dijadikan topik pembicaran hangat.  Tapi kenyataan berkata lain,perhatian publik sepakbola dialihkan oleh salah satu pemain baru , Mario Jardel. Dua golnya berhasil membuat Galatasaray menang dan menggondol tropi itu. 

Naluri predator di kotak penalti yang dia tunjukkan melawan Real hanyalah cuplikan dari sekian banyak kisah gemilang yang telah ia buat dalam karirnya dengan Vasco da Gama, Gremio dan Porto. Wakil Perdana Menteri Turki Mesut Yilmaz, meskipun diakui bukan pengamat sepakbola, mungkin tak ada salahnya ketika ia menyatakan bahwa Jardel adalah salah satu dari empat pemain terbaik dunia saat itu (Setelah Zidane, Figo, dan Rivaldo)

Jardel mulai menapaki kakinya di Eropa bersama Porto di tahun 1996 setelah tampil gemilang di Liga Brazil bersama Vasco da Gama dan Gremio. Di Porto, Jardel adalah sebuah fenomena. Dia berhasil mencuri perhatian publik Porto di dua musim pertamanya,menuai 74 gol indah, masing-masing 37 gol.Catatan itu membuatnya menjadikan ia sebagai pencetak gol terbanyak liga. Gelar sepatu emas Eropa pun atk luput dari genggamannya pada musim 1998/99. Gelar juara liga musim sebelumnya pun masuk dalam catatan fenomenanya bersama Porto.

 Musim 1999/2000 mungkin jadi catatan terbaiknya di Eropa, ia berhasil mencetak 54 gol luar biasa hanya dalam 49 pertandingan. Skeptisisme tentang kemampuan Jardel yang dipandang “hanya” bermain di liga Portugal dijawab dengan lugas di kompetisi Eropa: Barcelona dan Bayern Munich keduanya menjadi korban gol Jardel di Liga Champions, dengan salah satu ciri khasnya yaitu sundulan keras.

Sepuluh golnya dikompetisi Eropa membuat dirinya juga menjadi topskor Liga Champions.Kegemilangan Jardel kala itu, tersirat kegelisahan dan pergulatan batin juga baginya. Catatan menterengnya itu tak serta membuat dirinya mampu untuk mereplikasi keberhasilan di tingkat klubnya ke kancah internasional. Timnas Brazil nama-nama mentereng macam Romario, Rivaldo dan Ronaldo.

Meskipun catatan baik tetap ditorehannya,Jardel harus merelakan sepatu emas Eropa ke Kevin Phillips dari Sunderland, yang mencetak delapan gol lebih sedikit dan mendapat keuntungan dari penggunaan koefisien UEFA berdasarkan standar liga untuk menentukan pemenang. Di liga Portugal, ia merasa eksistensi dan kemampuannya tak mampu direalisasikan untuk memenangkan pujian dan pengakuan yang dia rasa pantas diterimanya. Untuk “Si Fenomena” dari Porto, sudah waktunya untuk melakukan perubahan.

Pada musim panas tahun 2000, Jardel berada di persimpangan jalan. Tergambar jelas bagaimana produktiftasnya selama dalam karirnya itu menggugah hasratnya untuk tampil di kompetisi yang lebih sengit dan berusaha untuk meningkatkan reputasinya yang akhirnya ia masuk ke tim nasional. Inter Milan mulai mencium kemampuannya.

Putus asa akibat gagal menjuarai liga Italia, Inter bertujuan untuk mempertajam lini serang mereka yang ditinggal cedera panjang oleh Ronaldo. Kenyataan berkata lain, Nerazzurri akhirnya memilih untuk menandatangani Hakan Şukur, salah satu pemain berpengaruh yang Galatasaray ke gelar Piala UEFA. Sebagai gantinya, Jardel didatangkan Galatasaray sebagai pengganti Sukur.

Tiba di upacara penandatanganan kontraknya yang mewah dengan limusin putih, Jardel menyatakan ambisinya untuk membuktikan diriny di liga besar Eropa sebagai alasan utama untuk transfer. Galatasaray jelas bukan tim kacangan: punya pemain berkualitas seperti Gheorghe Hagi dan Gheorghe Popescu, selain bakat muda yang menarik seperti Emre Belözoğlu dan Okan Buruk, Galatasaray sudah mencatat sukses baik di dalam negeri maupun di Eropa pada musim-musim terakhir di bawah Fatih Terim. Jika Jardel berharap untuk menunjukkan kemampuannya untuk berhasil di liga yang lebih kompetitif, meskipun pada nyatanya Turki jauh dari iklim kompetisi macam Inggris, Italia dan Spanyol.

Penampilan Jardel di Turki dimulai dengan cara yang bombastis dengan hasil lima gol yang menakjubkan dalam debutnya untuk klub.Meskipun mencatat 34 gol di semua kompetisi dan menjadi top skor di liga, ia masih menaruh harapan untuk memperkuat tim yang punya nama besar di Eropa. Jardel juga sempat mengeluhkan kurang bisanya beradaptasi dengan kondisi klub dan tak banyak yang bisa klub berikan padanya.

Secara mengherankan, spekulasi transfer ke Inter kembali terngiang-ngian kembali dibenaknya. Inter yang kembali gonjang-ganjing dengan bergonta-ganti juru taktik baik Marcello Lippi dan Marco Tardelli yang pada akhirnya juga harus tergelincir di pucuk pimpinan. Nerazzuri butuh mrestrukturisasi timnya; pada bulan Maret, diumumkan bahwa Emre Belözoğlu dan Okan Buruk – dua pemain bintang Galatasaray – akan bergabung dengan Inter di musim panas, meningkatkan spekulasi bahwa Inter juga menargetkan Fatih Terim untuk mempelopori kebangkitan mereka.

Dengan fakta bahwa Hakan Sukur sedang paceklik gol, sepertinya Inter juga akan segera merekrut striker. Godaan baru mereka dengan para arsitek kesuksesan Galatasaray menunjukkan bahwa Jardel dapat menjadi yang berikutnya dalam daftar mereka.

Fatih Terim memang pindah ke Milan tetapi itu bukan untuk melatih Inter, ia malah diresmikan sebagai manajer lintas kota mereka, dan Inter memilih untuk menunjuk mantan pelatih Valencia Héctor Cúper. Tidak ada ruang untuk Jardel dalam garis depan Inter,dikarenakan sedang membangun prospek pemain muda yang salah satunya ialah Mohamed Kallon. Patah hati bagi Jardel untuk kedua kalinya, sekaligus membuat dirinya harus  kembali ke Portugal untuk menandatangani kontrak dengan rival Porto,Sporting.

Musim 2001/02 di Sporting, Jardel tak patah arang untuk kembali unjuk gigi. Dia menyelesaikan musim sebagai pencetak gol terbanyak liga, 55 golnya di semua kompetisi membuatnya meraih sepatu emas Eropa untuk kedua kalinya. Angan-angan untuk di panggil ke skuad Piala Dunia dan pemberitaan tentang minat Barcelona untuk merekrutnya, ​​sepertinya jadi mimpi indah bagi Jardel. Harapan hanya sekedar harapan, cerita Jardel malah berkebalikan.

Jardel yang memukau di musim 2001/02 dengan Sporting menaruh harapan untuk masuk ke Piala Dunia di Jepang dan Korea Selatan. Dia telah mencurahkan seluruh kemampuannya bagi klub yang mengakhiri paceklik gelar liganya, dan mengklaim Sepatu Emas Eropa kedua dengan menyingkirkan nama-nama mentereng seperti Raúl, Hernán Crespo dan Ruud van Nistelrooy. Scolari berkehendak lain, pelatih Brazil tersebut tidak senang pada temperamennya dan dia juga dikambinghitamkan akibat meremhekan tim nasional Honduras di Copa America 2001 yang membuat Brazil harus angkat koper kala itu. 

“Jika saya tidak pergi ke Piala Dunia,saya akan frustrasi” ujar Jardel setelah musimnya yang gemilang bersama Sporting. Scolari tetap tak bergeming, nama Jardel tidak ada di dalamnya. Edílson dan Luizao, striker dengan catatan gol yang tak sementereng Jardel dan  bermain di Brasil, keduanya dipilih dalam skuad. Alih-alih memimpin garis depan untuk negaranya di kompetisi sepak bola paling bergengsi di dunia, pemenang dari sepatu emas Eropa malah menjadi penonton setia dirumah yang harus menerima kenyataan pahit  saat Brasil meraih gelar, dengan rekan senegaranya Ronaldo meraih berita utama.

Kekecewaan itu tampaknya memiliki dampak yang sangat dahsyat terhadap Jardel, yang juga ada sedikit masalah dengan rumah tangga dengan istrinya. Apa lagi yang harus dia lakukan untuk mendapatkan pengakuan prestasi yang layak didambakannya? Transfer prospektif ke salah satu liga besar Eropa sekali lagi gagal terwujud, baik dengan Barcelona maupun Real Betis yang hanya memberi harga sebesar 10 juta pound jika ingin pergi – angka yang kini tampaknya sangat rendah untuk pemain dengan reputasi dan kualitas mencetak gol Jardel.

Bak jatuh tertimpa tangga atau bahkan tertimpa seisi bangunan gedung, Jardel melarikan diri Sporting pada bulan September 2002. “Saya tidak pernah ingin bermain untuk Sporting atau di Portugal lagi,” katanya dalam sebuah pernyataan dari Brasil.

Sporting awalnya bersimpati pada keadaan mental pemain yang rapuh, memungkinkan dia untuk tinggal sementara di Brasil dengan syarat bahwa mereka menerima sertifikat medis dari Jardel setiap bulan, namun mereka dengan cepat kehilangan kesabaran ketika sertifikat berhenti tiba. Ketika mereka menanggapi dengan menangguhkan gajinya, striker yang bermasalah meminta pengakhiran kontraknya dengan klub dengan alasan bahwa dia tidak dibayar.

Masalah pribadi yang tak tampak bagai benih pohon yang baru ditanam,akhirnya muncul dan membesar. Dia selalu dikenal sebagai sosok yang lincah dan tak terprediksi, tetapi masing-masing klubnya tampak senang untuk mentolerir sikapnya selama tujuan klub terus datang. Klub-klub elit seperti Barcelona dan Inter tidak mungkin terkesan oleh sikapnya yang sulit ditebak dan sering meluapkan emosinya, dan Scolari tidak mungkin percaya bahwa gol-gol Jardel di Portugal sepadan dengan risikonya mengganggu harmoni dan keseimbangan tim Brasil-nya.

Jardel akhirnya akan kembali ke Sporting, tetapi masalah pribadinya sekarang memiliki efek yang merugikan pada karir sepak bolanya. Disebabkan oleh depresi, ia memilih kokain sebagai jalan keluar atas masalahnya, yang kenyataanya malah ia menghabiskan masa jedanya di Brazil dengan cara melukai dirinya sendiri melompat ke kolam renang . “Semuanya berawal dari pertemanan yang buruk.Lalu datanglah perceraian, depresi, dan obat-obatan saya. Ini sering terjadi dalam sepakbola,tetapi saya tidak dapat membicarakannya.  ujar Jardel.

Pada musim panas 2003, Sporting membuka jalan keluar bagi Jardel yang akhirnya mendapatkan transfernya ke salah satu liga besar Eropa. Tapi tujuannya, Bolton Wanderers, yang jauh dari kategori klub-klub termasyhur. Biaya transfernya yang terpangkas, 1,5 juta euro, merupakan refleksi yang jelas tentang seberapa jauh saham Jardel turun dalam waktu kurang dari setahun. Bolton pada saat itu adalah tujuan populer untuk mantan bintang yang ingin menampakkan sinarnya kembali.

Bersama manajer Sam Allardyce yang diniliai telah berhasil meremajakan orang-orang seperti Jay-Jay Okocha, Ivan Campo dan Youri Djorkaeff, yang semuanya membintangi Bolton setelah kehilangan atensi dan eksistensi mereka di tempat lain. Namun, Jardel tetap jadi bab yang hilang . Berkutat dengan masalah kebugaran dan kegemukan, tahunnya di Inggris berakhir dengan hanya tiga gol untuk Bolton – dua melawan Walsall dan satu melawan Liverpool di Piala Liga.

Karir Jardel benar-benar terjun bebas. Ia kemudian memutuskan untuk kembali ke benuanya, pertama di Newell’s Old Boys Argentina dan kemudian bermain untuk klub divisi bawah liga Brasil. “Saya katakan kepada siapa saja yang mendengarkan: jangan lakukan apa yang saya lakukan. Saya memberikan keterangan ini untuk membuka hati saya dan untuk mengakui kesalahan saya. ” ungkap Jardel kala ia kembali ke kampung halamannya.

Kegemukan, mental yang hancur dan tampaknya telah kehilangan minat dalam permainan. Jardel melewati masa-masa akhir di karirnya dengan bayangan suram dan hanya bisa merenung tentang betapa hebat dirinya dalam beberapa tahun ke belakang. Karir yang selalu tampak di ambang meledak ke panggung dunia malah gagal.Alih-alih, yang terjadi selanjutnya adalah kisah sedih tentang transfer yang gagal, perkawinan yang gagal, masalah disiplin, dan “pengucilan” terus menerus dari tim nasional. 

Mario Jardel seperti petasan yang menunggu siapakah orang yang tepat untuk menyalakan sumbunya agar ada ledakan-ledakan hebat, yang pada akhirnya ia-lah yang memotong sumbunya sendiri.

.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.