Timnas Indonesia dan Final AFF

Piala AFF

Ayosport.com – Dari 13 edisi Piala AFF yang pernah diselenggarakan, Indonesia sukses melaju ke final di 6 edisi. Tiga final pertama terjadi secara beruntun tahun 2000, 2002 dan 2004/2005.

Catatan lain, pada dua final pertama yang diikuti tahun 2000 & 2002, timnas Indonesia melaju saat partai final masih memakai sistem pertandingan tunggal di negara tuan rumah. Kemudian pada 3 final sebelum final terakhir yang diikuti tahun 2004/2005, 2010, dan 2016, Indonesia masuk ke final dengan format kandang dan tandang. Sementara 2020/2021, semua pertandingan berlangsung di Singapura dengan format yang sama seperti edisi sebelumnya.

Uniknya, 6 kekalahan pada final Piala AFF tersebut diiringi deja vu yang kebanyakan agak menyebalkan sepanjang dan antara turnamen berlangsung.

Final tahun 2000

Pada dua edisi pertama Piala AFF tahun 1996 dan 1998, Indonesia hanya sanggup sampai ke semi-final, dan baru pertama kalinya Indonesia berhasil melaju ke final tahun 2000 ini.

Turnamen ini berlangsung di Thailand. Partai final mempertemukan Indonesia melawan tuan rumah. Sebelumnya Indonesia telah bertemu Thailand di babak grup karena menempati satu grup yang sama.

Lalu Indonesia dan Thailand sama-sama lolos dari babak grup terus melaju hingga kembali bertemu pada partai final, dan yang terjadi pada final tersebut adalah deja vu pada pertandingan sebelumnya di babak grup.

ndonesia, yang sebelumnya telah tumbang oleh Thailand dengan skor 1-4 pada babak grup, kembali tumbang kedua kalinya. Skornya pun skor identik 1-4.

Gendut Doni Christiawan bersama Worrawoot Srimaka menjadi pencetak gol terbanyak bersama dengan torehan 5 gol. Secara kebetulan, kelima gol Worrawoot bersarang hanya di gawang Indonesia, lewat brace pada babak grup dan hat-trick di final.

Di turnamen ini juga terjadi pergantian pelatih Indonesia dari Nandar Iskandar ke asistennya Dananjaya, setelah kekalahan Indonesia pada babak grup atas Thailand. Nandar Iskandar-Dananjaya menjadi satu-satunya pelatih lokal yang bisa membawa Indonesia masuk ke Piala AFF.

Final tahun 2002

Piala AFF tahun 2002 berlangsung untuk pertama kalinya dengan 2 negara yaitu Singapura dan Indonesia bertindak sebagai tuan rumah. Turnamen ini juga yang terakhir tidak memakai babak kualifikasi menuju babak utama grup.

Partai final kemudian dilakukan di Indonesia. Final tersebut mengulang partai puncak tahun 2000, yang mempertemukan Indonesia dengan Thailand.

Hingga babak perpanjangan waktu habis, Indonesia menahan Thailand dengan skor 2-2. Pertandingan pun dilanjutkan dengan adu penalti.

Drama adu penalti pada final tersebut menjadi deja vu atas final SEA Games 1997, ketika SEA Games masih diikuti tim senior. Di tempat dengan lawan dan skor adu penalti yang sama, Indonesia takluk 2-4 dari Thailand.

Hampir sama dengan final SEA Games 1997, dua penendang penalti Indonesia juga gagal menyarangkan bola dalam adu penalti tersebut.

Bambang Pamungkas menjadi top skor turnamen dengan 8 gol dan tandemnya, Zainal Arif menjadi menjadi terbanyak kedua bersama Lê Huỳnh Đức dengan 6 gol.

Ivan Kolev mengawali tren pelatih asing timnas Indonesia di Piala AFF. Setelahnya belum ada lagi pelatih lokal yang sanggup membawa Indonesia melaju ke Piala AFF, meski beberapa kali dipercaya melatih.

Final tahun 2004/2005

Piala AFF tahun 2004/2005 memakai format baru. Pertama kali pula diadakan babak kualifikasi untuk dua posisi di babak grup, menemani 6 negara yang lolos otomatis ke babak utama grup.

Pertandingan sejak semi-final dan final dilakukan dengan format kandang dan tandang. Untuk babak grup berlangsung tetap berlangsung di dua negara, Vietnam dan Malaysia pada akhir tahun 2004. Kemudian babak semi-final dan final dilakukan awal tahun 2005.

Secara beruntun, Indonesia 3 kali masuk ke final Piala AFF. Kali ini Indonesia bertanding melawan Singapura, yang dibela beberapa pemain naturalisasi.

Sayangnya Indonesia kalah 2 kali di kedua final tersebut dengan skor 1-3 dan 1-2 (kalah agregat 2-5). Kekalahan yang diwarnai insiden Boaz Solossa mengalami cedera parah parah di pertemuan pertama laga final.

Di akhir turnamen Ilham Jaya Kesuma menjadi pencetak gol terbanyak dengan 7 gol. Kemudian Kurniawan Dwi Yulianto dan Elie Aiboy juga turut mendapat lampur sorot atas penampilannya.

Deja vu turnamen ini terjadi di top skor turnamen yang diisi pemain dari negara sama yang juga kalah di 2 kali final Piala AFF edisi sebelumnya.

Peter White, pelatih yang sebelumnya membawa Thailand mengalahkan Indonesia di 2 kali final Piala AFF, menjadi pelatih Indonesia. Ia sekaligus menjadi pelatih pertama yang pernah masuk ke 3 final Piala AFF.

Final tahun 2010

Turnamen kali ini tak memiliki banyak perbedaan format dengan edisi 2004/2005. Pembeda hanya berupa ditiadakan perebutan peringkat ketiga telah berlangsung sejak Piala AFF edisi 2007.

Indonesia kembali masuk ke final setelah absen pada edisi 2007 dan 2008, deja vu seperti sebelum Piala AFF tahun 2000 namun hanya sekali semi-final pada edisi 2008.

Hanya saja kali ini, Malaysia menjadi lawan pada partai puncak Piala AFF tahun 2010. Indonesia telah bertemu dan mengalahkan Malaysia dengan skor 5-1 di babak grup. Namun keadaan berbalik di 2 kali penyelenggaraan partai final.

Pertemuan pertama yang berlangsung di Malaysia, Malaysia mengalahkan Indonesia 3-0. Lalu pada pertemuan kedua, Indonesia yang berganti menang 2-1 atas Malaysia.

Sayangnya secara agregat, Malaysia unggul 4-2 dari Indonesia sehingga menjadi juara Piala AFF. Firman Utina menjadi pemain terbaik sepanjang turnamen Piala AFF.

Lalu untuk pertama kali juga pada turnamen ini, Indonesia menggunakan pemain naturalisasi, Cristian Gonzales dan pemain Indonesia dengan latar belakang sejak muda di Eropa, Irfan Bachdim. Sementara Muhammad Ridwan, Arif Suyono, dan Bambang Pamungkas turut pula memberi andil dalam permainan tim.

Alfred Riedl yang sebelumnya pernah membawa Vietnam masuk final Piala AFF edisi 1998, diangkat menjadi pelatih Indonesia.

Final tahun 2016

Seakan deja vu Piala AFF tahun 2000 dan 2010, Indonesia ke final Piala AFF tahun 2016 setelah absen di final pada 2 edisi beruntun. Bahkan lebih parah karena Indonesia tak lolos ke semi-final pada edisi 2012 dan 2014 tersebut.

Myanmar dan Filipina yang kali ini bertindak sebagai tuan rumah babak grup. Final Piala AFF tahun 2016 mempertemukan kembali Indonesia dengan Thailand.

Pertemuan pertama berlangsung di Indonesia dengan kemenangan untuk tuan rumah atas Thailand dengan skor 2-1. Pada pertemuan kedua, ganti tuan rumah Thailand yang mengalahkan Indonesia dengan skor 2-0.

Deja vu final tahun 2010 berlanjut, Indonesia gagal juara Piala AFF karena kalah secara agregat skor 2-3 dari Thailand.

Final tahun 2020/2021

Piala AFF 2020 berakhir dengan Timnas Thailand memastikan diri menjadi juaranya usai menang di final. Thailand tepatnya juara lantaran sanggup membuat Timnas Indonesia takluk 6-2 lewat hasil leg pertama 4-0 dan leg kedua 2-2.

Thailand pun memborong banyak gelar individu. Selain juara, Thailand juga membawa pulang tiga gelar individu.

Seperti halnya pemain terbaik atau most valuable player diberikan kepada penggawa Thailand, Chanathip Songkrasin. Songkrasin diberikan gelar pemain tersebut di kompetisi karena permainan yang apik dalam membawa Thailand menjadi juara.

Selain itu, Songkrasin juga menyabet gelar top skor di Piala AFF 2020. Hanya saja Songkrasin yang mencetak empat gol di sepanjang turnamen itu tidak sendirian dalam meraih gelar terbanyak.

Songkrasin berbagai trofi dengan ketiga pemain lainnya, yakni Safawi Rasid (Malaysia), Bienvenido Maranon (Filipina), dan Teerasil Dangda (Thailand). Ya, Danda menjadi perwakilan Thailand lainnya yang membawa pulang trofi individu usai gelaran Piala AFF 2020.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.