Sang Penjelajah bernama Juan Sebastian Veron

Juan Sebastian Veron
Juan Sebastian Veron

Ayosport.com – Pasti ada beberapa pesepak bola yang tetap kalian dukung setelah meninggalkan klub kesayangan kalian. Alasannya mungkin beragam, bisa jadi karena pemain tersebut memberikan performa yang gemilang secara konsisten, atau mungkin pemain tersebut tak begitu berbakat namun memberikan usaha ekstra di tiap laga. Namun, ada satu alasan lagi, yaitu pemain berbakat yang memang tak nyetel dengan klub kesayangan kita. Dan itulah yang menjadi alasan saya begitu mengagumi Juan Sebastian Veron.

Veron tiba di Manchester United (MU) dengan kemampuan bak alien. Di MU, tak banyak pemain dengan profil seperti dirinya. Ya, mereka memang memiliki Paul Scholes, yang kemudian menjelma menjadi salah satu pemain terbaik di posisinya. Namun, Veron memiliki level sensibilitas yang berbeda.

Read More

Ada satu hal yang kontradiktif di dalam diri Veron. Tangguh, namun juga rapuh. Menyaksikan permainannya di Serie A bagi Sampdoria, Parma, dan Lazio, saya menyaksikan penampilan yang tak sepenuhnya dapat saya mengerti. Ia tak pernah bertahan lebih dari dua musim di klub-klub tersebut, namun ia mampu secara instan menjadi poin penting dalam serangan tim.

Dan sebenarnya, pemain seperti apa dia? Pada awalnya, ia terlihat seperti seorang gelandang tengah, dengan pelindung kaki (deker) khas gelandang, penuh determinasi dan kaus kaki yang digulung. Di pandangan kedua, saya melihatnya seperti pemain nomor 10, terutama ketika ia berduet dengan Hernan Crespo di Parma, membentuk kombinasi yang berbahaya bagi lawan. Kedua pemain itu diakuisisi Lazio di musim berikutnya, dan mampu membawa klub asal Roma tersebut ke titel Serie A kedua mereka.

Lalu, mengapa Veron tak berhasil di Old Trafford? Salah satu penyebab terbesarnya adalah gaya main di Liga Primer Inggris. Semasa waktunya di MU, dapat disadari bahwa permainan terbaiknya muncul di laga-laga Liga Champions, atau di pertandingan melawan tim papan atas Liga Primer Inggris di permainan dengan level yang tinggi.

Lebih lagi, kemampuan terbaik Veron keluar ketika ia berduet dengan Phil Neville di lini tengah, pemain yang mengemban tugas defensif sepenuhnya di lini tengah, seperti layaknya Matias Almeyda di Lazio. Bersama MU, Veron kerapkali harus melakukan mengotori kakinya untuk melakukan tugas defensif, dan hal itulah yang menyebabkannya tak mampu menyatu dengan baik.

Hal ini tentunya sungguh disesali, mengingat Veron di masa jayanya adalah pemain yang begitu luar biasa. Ia mampu melakukan operan dengan akurasi dan gaya seperti yang dilakukan Paul Pogba saat ini. Lebih dari itu, pada dasarnya, Veron mampu menyaingi Zinedine Zidane sebagai playmaker terbaik di dunia saat itu.

Memang, di tahun 2003, ia berhasil menjuarai liga bersama sang Setan Merah, yang mungkin menjadi proses dari pembersihan namanya kembali. Saya ingat, dalam sebuah wawancara, ia mengatakan betapa ia menderita karena performanya di Manchester dan bagaimana ia begitu kecewa karena telah mengecewakan pendukungnya. Sejak saat itu, saya langsung merasa bahwa ia adalah orang yang luar biasa, dan menjadi penggemar beratnya ke mana pun ia pergi.

Saya senang ia berkata seperti itu, karena itu memudahkan saya untuk lebih memahami karier sepak bolanya, dan untuk melihat bagaimana ia meraih kebahagiaan dengan membahagiakan orang lain. MU sendiri tak menjadi perhentian terakhir bagi Veron. Alih-alih, waktunya di Manchester menjadi satu tempat transit dalam karier sepak bolanya, yang berawal dan berakhir di tempat yang sama.

Veron dapat dibandingkan dengan Odysseus, tokoh mitologi Yunani. Ia berkelana dari rumahnya di Argentina untuk menemui banyak konflik, dan pada akhirnya pulang dengan penuh kejayaan ke rumahnya. Kisah sepak bola Veron sungguh puitis. Ayahnya membawa Estudiantes ke titel juara Copa Libertadores di tahun 1968, dan Veron melakukan hal serupa di tahun 2009, menjadi pemain terbaik di turnamen tersebut.

Bagi Veron, trofi tersebut teramat berarti baginya, dan ia berkata sebelum laga final bahwa ia akan menukar semua trofi yang telah ia menangkan untuk trofi Copa Libertadores, lalu kejayaan inilah yang menjadi puncak kariernya.

Veron bermain bagi 10 klub dalam 23 tahun karier sepak bolanya, dan luar biasanya, ia masih sempat bermain di usia 42 tahun. Ia bisa dibilang sebagai pengelana sepak bola paling berbakat sepanjang masa. Tak banyak kita temui pesepak bola mendapatkan akhir karier yang indah seperti dirinya.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.